Rabu, 13 Juli 2011

Pertemuan Sekali dalam Seumur Hidup (part 5)

Sejak kejadian itu, aku tak pernah bicara lagi dengan Haru. Begitu juga dengan Haru. Sebenarnya ada sedikit perasaan bersalah didalam hatiku, hanya saja aku takut minta maaf pada Haru. Terlebih aku mendengar kalau Haru sudah berpacaran dengan Himawari. Aku benar – benar menjauh dari Haru.
Jam pulang telah berbunyi, aku berniat ketempat itu. Tempat aku dan Haru bernyanyi bersama, bercanda bersama. Rasanya semua itu seperti mimpi aku bisa berbicara dengan orang lain. Air mata kembali membasahi wajahku. Sekarang semuanya hanyalah masa lalu. Dan masa lalu tak bisa diubah. Aku membuka situs Otaku Zone dan mulai menulis.
“Dear Otaku Zone, rasanya sepi sekali tanpa kehadiran Haru. Aku ingin kembali bercanda dengan Haru. Aku ingin meminta maaf padanya, namun hatiku tak kuat menahan rasa sakit ini. Menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku harus terus berdiam seperti ini terus? Ternyata aku memang tak bisa berteman dengan yang lain.”
Aku berhenti menulis. Hatiku sangat sakit. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung. Tak lama ada yang mengomentari blogku.
“Wah… aku mengerti perasaanmu. Aku juga pernah begitu dengan sahabatku. Tapi, kau harus tetap semangat!”
Aku tersenyum melihat komentar itu. Beberapa menit kemudian ada yang mengontari lagi.
“Tetap semangat, jangan putus asa. Pasti akan ada kesempatan!”
Aku pun membalas komentar itu, “terima kasih semuanya. Aku sangat senang.”
Setelah membalas komentar, kuputuskan untuk pulang. Dipintu terselip selembar kertas. Aku mengambilnya dan segera membacanya.
‘Nanti malam aku ingin berbicara hal penting. Kutunggu ditempat rahasia kita.’
Aku tau betul siapa yang menulis surat ini. Apa yang mau ia bicarakan?
Malam pun tiba. Hari ini adalah bulan purnama, jadi jalan sedikit terlihat walaupun gelap. Aku segera pergi ketempat itu. Aku pergi diam – diam, takut kalau ketahuan dengan penjaga asrama. Saat aku sampai disana, tak ada siapa – siapa. Sepi sekali.
Tak lama kemudian, Haru datang dengan nafas yang terengah – engah.
“Maaf ya, aku telat.”
“Tidak apa. Ada apa kau memanggilku?!” kataku ketus.
“Kau masih marah padaku?”
Aku hanya diam membelakangi Haru.
“Maafkan aku, jika aku punya salah padamu,” kata Haru pelan.
“Kau tak perlu minta maaf. Justru akulah yang pantas minta maaf.”
“Eh…”
“Maafkan aku karena menghindarimu.”
“Tidak apa – apa.”
Kami terdiam beberapa saat. Angin malam yang dingin menusuk tubuhku hingga aku merasa dingin. Tiba – tiba saja Haru memberikan jaketnya padaku, “Pakailah.”
“Tapi…”
“Tidak apa – apa. Aku tidak kedinginan kok.”
“Lalu… apa yang mau kau bicarakan?”
“Ng… sebenarnya aku ingin mengakui ini sejak kita bertemu…”
“Apa?”
“Aku… aku suka padamu…”
“Ekh!!”
“Iya. Aku sudah lama menyukaimu. Sejak aku kenal denganmu setahun lalu, aku sama sekali tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku datang kesekolah ini pun karena ingin bertemu denganmu,” cerita Haru.
“Tunggu dulu. Setahun lalu? Apakah kita pernah bertemu?”
“Kau tau situs Otaku Zone?” Tanya Haru.
“Tau. Kenapa?”
“Aku mengenalmu lewat situ situ. Aku selalu membaca blogmu. Saat pertama kita bertemu disini pun, sebenarnya aku sudah tau tempat ini. Kau selalu menceritakan hari – harimu diblogmu. Aku selalu membacanya. Sejak itulah aku berniat mencarimu dan ingin mengungkapkan perasaanku padamu.”
“Tunggu dulu. Kalau kau punya Otaku Zone, apakah namamu itu “Haru230”?” tanyaku.
“Iya. Kau mungkin tak sadar akan hal itu. Aku juga tak pernah memasukkan fotoku kedalam sana. Jadi, kau tak pernah melihatmu. Waktu kita bertemu itu, aku tak menyangka akan bertemu denganmu. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu Dia-chan.”
Aku hanya bisa tersipu malu. Wajahku sangat panas hingga angina malam yang dingin ini sama sekali tak bisa kurasakan. Haru mengambil sesuatu dari saku bajunya dan memberikannya padaku.
“Apa ini?”
“Ini untukmu,” kata Haru dengan wajah merah. “bukalah.”
Aku membuka kotak yang diberikan oleh Haru. Aku sangat terkejut melihatnya. Didalamnya terdapat dua cincin yang berpasangan.
“Aku memberikan ini padamu karena aku menyukaimu…”
Aku diam menunggu Haru berbicara.
“Maukah kamu menerimaku, Dia-chan?”
Entah apa yang mendorongku, tiba – tiba saja aku memeluk Haru dengan eratnya, seolah tak ingin melepaskan Haru lagi.
“Di… Dia-chan…”
“Tentu. Aku juga sudah lama sekali menyukaimu, Haru.”
“Benarkah?”
Aku menganggukan kepalaku dengan mantap. Kemudian aku melepaskan pelukanku dari Haru. Haru mengambil satu cincin itu dan memasangnya dijari manisku. Begitu juga denganku. Rasanya seperti upacara pernikahan dibawah sinar bulan purnama yang sangat indah. Tiba – tiba saja, wajah Haru mendekat dan semakin mendekat. Tanpa terasa bibir kami berdua bertemu. Ya ampun… ciuman pertamaku.
“Selain itu Dia-chan, aku ingin memberitahumu.”
“Apa itu?”
“Maafkan aku. Besok pagi aku sudah harus kembali bersama orang tuaku,” sesal Haru.
Ribuan jarum seolah menusukku. Aku sangat terkejut mendengar hal itu. Tapi, aku tetap berusaha untuk tersenyum didepan Haru.
Keesokkan harinya, aku mengantar Haru sampai ke bandara. Sebelum berangkat, Haru mengajakku ke lantai paling atas, dimana kita bisa melihat semua pesawat.
“Aku benar – benar minta maaf, Dia-chan.”
“Sudahlah Haru. Kau tak perlu minta maaf.”
“Tapi, kau adalah pacarku. Dan aku malah seenaknya pergi.”
“Tidak apa – apa. Walaupun kau jauh, perasaanku akan tetap sama,” hiburku.
Haru mencium keningku dengan lembut. Rasanya sangat hangat dan lembut. Aku hanya bisa menahan air mataku, namun rasanya sulit bagiku. Air mata itu tetap keluar. Tangan Haru yang lembut menyeka air mataku dan menciumku.
Panggilan pesawat terdengar sangat nyaring. Haru berpamitan padaku. Aku masih berdiri sambil melihat pesawar Haru yang sudah terbang. Kali ini air mataku tak bisa dihentikan lagi.
“Selamat tinggal Haru. Aku akan terus menunggumu walaupun harus bertahun – tahun lamanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar