Jumat, 15 Juli 2011

Cinta yang Salah (part 2)

“Kalo… gue…”

Aku menunggu Rahlan melanjutkan omongannya.

“Kalo gue… suka ama loe?”

Jantungku terasa ingin copot. Aku sama sekali tak menyangka kalo Rahlan akan berkata seperti itu.

“Sebaiknya, loe piker – piker dulu,” kata Rahlan.

“Baiklah.”

Rahlan mengenggam tanganku dengan erat dan berkata , “ayo aku antar kau pulang.” Aku hanya mengikuti langkah Rahlan dari belakang. Hari sudah sore, udara mulai dingin karena sekarang sudah masuk musim hujan. Sejak Rahlan berbicara mengenai perasaannya, aku hanya bias diam membisu. Bingung apa yang harus kukatakan padanya. Tak sadar, kami berdua sudah sampai didepan rumahku.

“Makasih ya udah nganterin,” kataku pura - pura ceria.

“Sama – sama. Aku mohon pikirkanlah perkataanku tadi baik – baik.”

“Ya. Tenang saja. Kalo udah pasti, nanti aku kabarin dech.”

Seulas senyum terlihat dengan jelas diwajah Rahlan, “Oke. Sampe besok.”

Aku segera berlari menuju kamarku yang berada dilantai atas. Lalu, aku menghempaska tubuhku kekasur. Aku masih bingung dengan kejadian tadi, rasanya seperti mimpi saja Rahlan berkata seperti itu padaku. Memang sudah lama aku menyukai dia. Tapi, aku tidak bias mengunggkapkannya dengan baik. Setiap kali ada kesempatan untukku, aku selalu menyia – nyiakannya. Aku ini memang gadis yang sangat bodoh.

Mungkin Tuhan masih memberiku kesempatan. Kali ini aku tidak akan menyia – nyiakannya lagi. Kuambil Hp-ku, dan mulai mengetik sesuatu untukku kirim ke Rahlan.

Sudah satu bulan aku pacaran dengan Rahlan. Aku masih merasa seperti dialam mimpi saja. Dan dia selalu baik kepadaku. Aku sangat senang bersama dengannya. Aku terus berharap, agar aku terus bisa bersama dengan Rahlan.

Tapi, sepertinya Tuhan berkata lain. Sekitar dua hari yang lalu, aku mendengar berita yang menghebohkan kalau Rahlan selingkuh dariku. Saat aku mencoba mencari tahu, ternyata memang benar dia bersama cewek lain. Dan yang paling membuatku terkejut adalah cewek itu Sari, sahabatku sendiri. Selama satu minggu aku tak masuk sekolah, karena masih syok dengan kejadian itu.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku pada diriku sendiri. “Apakah aku harus memutuskan hubunganku dengan Rahlan? Tapi, aku tak ingin. Aku masih sayang dengan Rahlan. Aku tak ingin berpisah darinya.”

Pikiranku sangat kacau. Aku ingin menumpahkan semua kekesalanku pada kisahku kali ini. Aku membuka komputerku dan mulai menulis. Semua yang kurasakan, semua yang kualami akan kutumpahkan semua kedalam cerpenku ini.

Saat tengah menulis cerpen, aku mengambil Hp-ku dan mulai mengetik ke Rahlan.

Rahlan, mungkin waktu kita untuk bersama memang sangat singkat. Aku sangat senang saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Hari – hari yang kita lalui sangatlah indah. Tapi, sepertinya Tuhan berkata lain tentang hubungan kita. Aku minta maaf padamu jika aku memiliki kesalahan. Aku memang masih ingin bersamamu, tapi ternyata tak bisa. Sepertinya aku memang tidak bisa mendampingimu .Terima kasih banyak.

Air mata membasahi pipiku dengan derasnya. Air mata ini sudah tak bisa ditampung lagi. Biarlah aku berpisah darimu. Walau ini menyakitkan bagiku, tapi aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu selama ini. Terima kasih, Rahlan. Terima kasih sudah mau membalas perasaanku walau hanya sesaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar