Suara pantulan bola itu terdengar nyaring ditelingaku. Sosok yang memasukkan bola kedalam ring sungguh membuatku terpesona. Jantungku bergerumuh tak karuan. Dideretan bangku penonton itu, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Wajahnya yang berubah tiap kali menangkap bola, terlihat sangat menawan bagiku. Aku jadi ingin memiliki semuanya...
“Kyaa!! Indra keren banget!” pekik Dina. Aku yang berada disebelah Dina hanya diam dan masih berkonsentrasi pada latihanku. Aku juga melirik keluar gedung olahraga dan banyak sekali murid cewek yang memberi semangat untuk Indra. Aku menghela napas panjang dan mengambil handukku ditas.
“Hari ini Indra laku juga ya,” bisik Riska.
“Bukannya dia memang laku?” tanyaku.
“Benar juga.”
Indra memang idola dieskul basket sekolahku. Selain jago bermain basket, nilainya yang lumayan bagus, dan wajahnya diatas rata – rata. Tak heran, nyaris satu sekolah naksir padanya.
“Latihan hari pun keganggu karena berisik lagi ya. Jadi bosen, karena cuman Indra yang diperhatiin. Padahal kan gue lebih cakep daripada Indra,” canda kak Dika.
Semuanya hanya tertawa mendengar candaan kak Dika, salah satu alumni yang melatih eksul basket di sekolahku. Hari Sabtu yang selalu libur tak pernah menampakkan libur sekalipun. Murid – murid banyak yang melakukan ekul. Terutama eskul basket. Setiap kali latihan, banyak sekali orang – orang yang datang hanya untuk melihat idola mereka.
“Ada nggak enak juga tau jadi idola,” kata Indra tiba – tiba. “Males, kalo selalu dikerubungin.”
“Tapi, bukannya justru malah asik?” tanya Ahmad. “Muka loe juga nunjukkin.”
“Sialan loe!”
“Udah, udah,” lerai kak Dika. “Karena latian kita udah selesai, kita udahin aja dulu hari ini. Udah siang banget.”
Seperti biasa, sebelum pulang, kami berdoa terlebih dahulu dan mengucapkan semangat kami. “Go! BasketBall!” Setelah itu, kami semua bubar. Ada yang pergi kekantin untuk mengisi perut yang kosong, ada juga yang langsung pulang. Aku memutuskan untuk pergi kekantin sebentar. Hitung – hitung sambil istirahat sebentar. Menunggu makanan datang, kami semua bercanda seperti biasanya. Baru sebentar, para ‘penggemar’ Indra langsung mengerumuninya.
“Indra, pasti capek ya.”
“Kasian. Istirahat dulu deh.”
“Wah... wah... berisik lagi deh,” gumamku.
“Kayaknya, tiada hari tanpa ocehan dari para ‘fans’nya Indra ya,” sambung Dina. “Tapi, dia emang keren sih.”
“Hush! Inget! Loe udah punya. Noh, orangnya,” kataku sambil menunjuk Ahmad. Dina hanya tertawa mendengar omelanku. Setelah makanan sudah siap, aku langsung buru – buru menghabiskannya. Mendengar teriakan mereka, membuat kepalaku berdengung. Sebenarnya, aku juga punya rasa pada Indra. Tapi, nggak bisa kuungkapkan karena aku hanya teman biasa dan teman latihannya. Selesai makan dan membayarnya, aku langsung pamit pada yang lain. Aku berjalan menuju parkir dan melihatnya. Padahal, aku yakin sekali tadi dia masih ada dikantin.
“Kenapa loe disini? Ntar dicariin lho,” kataku.
“Sarah rupanya, gue kira siapa,” kata Indra. “Lagi menyendiri aja. Nggak boleh? Kalo dikerubungin mulu kan pusing.”
“Pusing atau kesenengan? Muka loe kagak ada raut pusingnya tuh.”
“Terserahlah,” katanya. “Loe udah mau pulang?”
“Yup. Males lama – lama disini.”
“Besok mau ikutan lagi? Kali ini dilapangan deket rumah loe. Sekalian mampir buat makan hehehe.”
“Yee... situ mau maen basket apa mau makan dirumah saya?” tukasku. “Ya udahlah. Kayak biasa kan?”
Indra mengacungkan jempolnya tanda benar. Aku hanya tertawa melihat tingkah lakunya. Setelah berpamitan padanya, aku langsung menyalakan mesin motorku dan melaju untuk pulang. Besok kami berdua akan latihan basket dilapangan dekat rumahku. Kadang didekat rumahnya, dan kadang didekat rumahku. Rumahnya memang lumayan jauh. Tapi, aku cukup senang berkunjung kesana walau hanya sekadar berlatih. Kami berdua memang suka latihan sembunyi – sembunyi. Tak jarang, jantungku selalu berdegup saat bersamanya. Tapi, aku lebih memilih menyimpan perasaanku. Aku tak ingin ada yang mengetahuinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar