“Loh? Kenapa gue nangis? Kan nggak ada yang sedih?” tanyaku pada diriku sendiri. Aku langsung menyekanya dengan punggung tanganku yang basah. Tidak bisa. Tidak mau berhenti. Hatiku terasa perih. Kenapa hatiku seperih ini? Bukankah itu haknya Dina untuk menentukan siapa pasangannya? Tapi, kenapa hatiku tidak rela? Air mataku terus berjatuhan tanpa bisa kuhentikan. Ditengah hujan yang deras ini, aku sama sekali tak bisa merasakan tanganku. Tanganku seolah mati rasa.
Terpintas, aku mendengar suara motor lewat. Tapi, tak kupedulikan. Kalaupun itu orang tuaku, aku tak ingin pulang. Masih ingin berada disini. Masih ingin berada dilapangan yang sering kupakai bersama Indra. Ada yang menutupiku dengan jaket. Jaket itu basah dan aku mengenali model jaket ini. Kudongakkan keatas dan melihatnya.
“Bego! Ngapain loe ada disini?!” bentak Indra. Aku hanya diam melihatnya. Kenapa dia ada disini sih?!
“Loe mau mati kedinginan?!”
“Biarin aja. Toh, itu keinginanku dari dulu,” kataku pelan. Kami berdua terdiam. Suara hujan yang mengguyur bumi terdengar sangat jelas dan makin deras.
“Ya udah! Mati aja sana! Kagak peduli gue,” kata Indra. Dia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi. Tubuhku gemetaran. Bukan karena dinginnya hujan, tapi karena kata – kata Indra barusan. Tanpa kusadari, tanganku mencegah Indra untuk pergi. Aku ingin berkata sesuatu, tapi mulutku tak mau mengeluarkan suara.
“Gue... gue... nggak pengen mati...” kataku. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya. “Karena... gue... suka sama loe, Ndra. Suka!”
Indra hanya diam dan mengajakku pulang. Sudah kukatakan, kan? Tanyaku. Sampainya dirumah, aku langsung memberikan Indra selembar handuk dan juga baju milik kakakku. Mungkin kakak nggak bakalan keberatan.
“Hei, mau minum sesuatu?” tanyaku.
Indra hanya diam. Entah marah atau apa, dia kelihatan tak ingin berbicara padaku. Aku duduk disebelahnya. Waktu terasa berhenti diruangan ini. Rasanya sesak dan sulit sekali untuk bernapas. Sebenarnya, aku ingin bertanya padanya, apa yang ia lakukan bersama Dina disekolah tadi? Tapi, aku takut. Seolah bisa membaca perasaanku, Indra langsung menceritakannya padaku.
“Gue cuman nganterin Dina kerumahnya kok,” kata Indra mulai bercerita. “Adeknya sakit dan nggak ada siapa – siapa dirumah. Sedangkan, Ahmad lagi nggak bawa motor dan nggak bisa nganter Dina. Sempet cekcok sih mereka berdua. Padahal, Dina cuman bercanda dengan kata – katanya, tapi Ahmad malah nanggepin serius. Ya udah, dia minta anterin gue.”
“O-oh... maaf... gue sempet mikir yang bukan – bukan,” sesalku.
Indra kembali diam. Dia bangkit dari kursi dan berjalan menuju garasi.
“Udah mau balik?” tanyaku. “Kan masih ujan.”
“Liat baik – baik dong,” kata Indra sambil menunjuk jendela. Hujan sudah berhenti dan mulai menurunkan rintik – rintik. Aku mengantarkannya kegarasi. Indra mulai menyalakan mesin motornya. Aku ingin bertanya padanya, apa jawaban dari pernyataanku. Tapi, itu tidak penting. Saat itu, aku pasti sedang lepas emosi.
“Oh iya,” kata Indra. “Hampir aja kelupaan.”
“Apaan?”
“Soal perkataan loe waktu dilapangan tadi.”
Mendadak wajahku memanas. Kenapa Indra bisa mengingatnya? Batinku. “Gue bakal jawab, kalo loe udah bisa nyetak three point,” katanya lagi.
“Lupakan saja. Sampe mati pun, gue nggak bakalan bisa nyetak three point. Mustahil,” kataku. Indra hanya tersenyum padaku dan mendekat kearahku. Sedetik kemudian, dia mencium keningku. Spontan, aku tersontak kaget dengan tindakannya.
“Tanpa gue bilang juga, loe pasti udah bisa nebak dari apa yang gue lakuin ke loe tadi, kan?” kata Indra. Aku hanya menyentuh keningku dengan perasaan berdebar – debar.
“Tapi, gimana dengan fans loe?” tanyaku. “Bisa habis gue nanti, kalo loe pacaran sama orang macem gue ini.”
“Ya ilah, tenang aja. Gue bakalan ngelindungin loe dari amukan ‘fans’ gue itu. Jadi, kamu nggak usah khawatir.”
Mendengar Indra memanggilku dengan sebutan “kamu,” aku menjadi salah tingkah sendiri. Rasanya aneh sekali bagi kami memanggil “aku” dan “kamu.”
“Okeh. Aku pulang dulu ya. Jangan keluar rumah lagi. Ntar sakit lagi,” pesan Indra.
“Mm. Hati – hati,” kataku. Sesaat sebelum Indra pergi, dia sempat berbisik padaku.
“Aku juga sayang kamu, Sarah.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Rasanya seperti mimpi perasaanku bisa terbalas seperti ini. Kupikir, perasaanku ini hanya akan kusimpan terus. Tapi, menguap begitu saja. Aku hanya berjanji padaku diriku sendiri. Aku tak akan menyia – nyiakan hal terindah yang diberikan Tuhan kepadaku ini. Aku akan menjaganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar