Keesokkan harinya, keadaan kelas sangat rebut. Mereka bilang akan ada murid baru dikelask. Aku jadi sedikit penasaran.
“Dia-chan,” panggil Aoi.
“Ada apa?”
“Kau sudah dengar berita hari ini?” Tanya Aoi.
“Maksudmu tentang anak baru itu?”
“Ya. Kamu tahu dari mana?”
“Dari anak – anak yang lain. Aku dengar saat masuk kelas.”
“Oh… aku jadi tak sabar untuk melihatnya,” girang Aoi.
Bel masuk berbunyi, semua murid kembali ketempat mereka masing – masing. Saat wali kelasku masuk, ia bilang akan memperkenalkan murid baru. Aku sangat terkejut. Ternyata anak baru itu adalah anak yang kemarin. Namanya adalah Haru.
Sehabis pulang sekolah, aku biasa menulis tentang hari ini. Maka dari itu karena cuacanya cerah dan angin sedang bagus, aku membawa laptopku dan pergi ketempat “itu”. Tempat yang hanya aku ketahui. Tempat dimana kita bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya.
“Ya ampun, sepertinya hari ini angin memberi service lebih. Anginnya sangat sejuk!” seruku.
Tanpa basa – basi lagi, aku langsung membuka situs Otaku Zone milikku.
“Dear Otaku Zone. Hari ini disekolahku kedatangan murid baru yang bernama Haru. Yang lebih mengejutkannya lagi, dia adalah anak yang kemarin aku temui. Wuah… rasanya sulit kupercaya, tapi ada yang berbeda dari sikapnya itu. Aku juga kurang tau apa itu. Apa mungkin senyumannya atau cara ia berbicara. Yang jelas ada yang berbeda. Selain itu, dari namanya rasanya aku pernah bertemu dengannya. Bukan kemarin, tapi lebih jauh lagi.Apa ya? Aku tak ingat.
Ya sudah, kupikir cukup sekian. Besok aku akan menulis hal yang lebih menarik lagi.”
Selesai menulis blog, aku memotret matahari senja yang berwarna keemasan itu. Kemudian aku memasukkannya ke dalam album milikku. Selain ada halaman untuk menulis blog, kita bisa memasukkan beragam foto. Ada juga permainannya, klub, dan bagian chat.
Tiba – tiba saja terdengar suara langkah seseorang mendekat kemari. Dan saat aku menoleh ternyata itu adalah Haru.
‘Mau apa dia? Kenapa dia bisa tau tempat ini?’ tanyaku dalam hati.
“Indah ya,” kata Haru pelan.
Aku segera menjawabnya, “ya kau benar.”
Haru segera duduk disebelahku, “Kau sering kemari?”
“Lumayan sering.”
“Begitu. Apa yang bagus dari sini?”
“Tentu saja kita bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya. Dan aku sangat suka disini.”
“Oh. Namamu siapa?”
“Aku Diamond. Kamu Haru kan?”
“Ya. Kau tau dari mana?”
“Tentu aku tau, kita teman sekelas, kan.”
“Benarkah? Kenapa aku tidak melihatmu?”
“Aku juga tidak tau. Tapi, yang pasti kita adalah teman sekelas,” kataku.
Sejenak kami berdua berhenti berbicara karena terkagum pada matahari senja yang berwarna keemasan itu. Hanya suara angina saja yang terdengar dengan jelas.
“Haru, apa yang membuatmu pindah kesini?” tanyaku.
“Aku sedang mencari seseorang,” jawabnya.
“Siapa itu? Boleh aku tau?”
“Itu rahasiaku.”
“Ah… pelit.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar