Rabu, 13 Juli 2011

Ditinggal Seorang Sahabat (part 4)

Aku terkejut bukan main. Ternyata, yang dimaksud oleh ayah dan ibu adalah Raka. Aku segera minta izin untuk ikut kerumah sakit tempat Raka dirawat. Awalnya, ayah Raka tidak mengijinkan. Tapi, aku berusaha keras membujuknya. Aku ingin melihat Raka.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, tak henti – hentinya aku melantunkan doa untuk Raka. Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Disana, kami bertemu dengan dokter yang merawat Raka. Dokter itu berkata, bahwa kondisi Raka sangat kritis. Saat ini, dia sedang koma.
Aku sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih. Sahabatku sedang tertidur tak berdaya disana. Dengan peralatan medis dimana - mana. Air mataku jatuh dengan derasnya. Sahabatku yang paling kubanggakan kini terbaring lemah disana. Dan sulit bagiku untuk menjangkaunya.
Aku pulang diantar oleh ayah Raka. Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kekamarku dan menangis sejadi – jadinya. Terus menangis tanpa bisa menghentikan air mata ini.
Satu bulan sudah, Raka tertidur dalam keadaan koma. Aku juga tidak boleh menjenguknya, karena selain rumah sakitnya jauh dan juga dilarang oleh orang tua. Beliau bilang, aku harus belajar untuk mempersiapkan ulangan semester. Setiap malam, tak henti – hentinya aku berdoa agar Raka sadar.
Ulangan semester pun telah selesai, dan hari ini ayahku bersedia mengantarkanku kerumah sakit. Sebelum itu, aku membawakan sekeranjang buah untuknya. Aku masuk kedalam kamar Raka, sedangkan ayah hanya menunggu diruang tunggu. Didalam kamar Raka, banyak sekali peralatan medis. Aku sangat berhati – hati melangkah dan duduk disamping ranjang Raka.
“Hei Raka, hari ini aku telah melewati ulangan semester,” kataku. “Kau tau, aku berusaha keras mengerjakan soal – soal eksak. Tapi, tetap saja aku merasa tidak yakin dengan jawabanku sendiri. Dulu, kau sering sekali mengajariku sampai kau marah padaku. Maaf ya, aku benar – benar bodoh dalam pelajaran eksak.
“Aku selalu saja merepotkanmu. Aku jadi ingat, saat kau mengajakku bermain dulu. Kupikir, aku akan sendirian selamanya. Sejak kau datang, aku merasa sangat senang. Kau adalah sahabat terbaikku. Kuharap, kau segera sadar Raka. Jadi, kau bisa bebas memarahiku seperti dulu.”
Aku pergi meninggalkan Raka. Dikoridor jalan, aku melihat ayah Raka dan Tante Sarah yang kelihatannya sedang bertengkar.
“Apa maksudmu jangan pedulikan anak itu?! Raka adalah anak kita!”
“Anak kita?” kata Tante Sarah. “Itu adalah anakmu dengan istrimu yang dulu. Bukan anakku. Aku bahkan tidak melihat anak itu sebagai anakku.”
“Apa?!” kata ayah Raka sambil menampar wajah Tante Sarah.
Aku tidak kuat melihat pemandangan seperti itu. Aku segera berlari ketempat ayah dibawah. Kenapa? Kenapa harus Raka yang mengalami hal seperti ini? Kenapa bukan aku saja yang mengalaminya?
Aku pulang kerumah dengan perasaan bercampur aduk. Aku tidak ingin melihat dan mendengar apa – apa. Aku hanya ingin Raka sadar dan kembali tersenyum padaku. Hanya itu keinginanku.
Keesokkan harinya, cuaca nampak tidak bersahabat. Dicuaca yang mendung ini, aku hanya diam saja menatap jendela dan mengingat masa laluku dengan Raka. Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunanku.
“Runa, ganti bajulah. Kita akan pergi,” kata ibu.
“Pergi kemana?” tanyaku.
“Kita akan menyelawat seseorang.”
Ibu langsung pergi meninggalkanku. Menyelawat seseorang? Perasaanku berdebar tidak karuan. Aku ingin tetap tinggal, tapi hatiku menolak keras. Dengan berat hati, aku bangun dari lamunanku dan mengganti baju.
Diruang tamu, sudah ada beberapa tetangga yang mampir kerumahku untuk berangkat bersama. Kami semua segera berangkat ketempat itu. Aku sangat kaget, saat kami sampai dirumah Raka. Suara lantunan Surah Yasin terdengar dimana – mana. Didalam, aku melihat sosok yang sangat kukenali. Sosok laki – laki yang sudah tak asing lagi bagiku.
Air mataku yang sudah tak tertampung lagi, jatuh dengan derasnya. Aku berusaha memanggil namanya. Terus dan terus. Tapi, usahaku sia – sia. Sekarang Raka sudah berada didunia yang tak terjangkau olehku. Aku tidak bisa percaya dan tidak mau mempercayainya. Sahabat yang paling kubanggakan telah hilang dari dunia ini.
Aku melihat ayah Raka yang menangis tersedu – sedu, tetapi aku tidak melihat Tante Sarah. Aku tidak peduli. Aku keluar dari kerumunan itu. Saat itu juga, tiba – tiba hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Suaraku yang menangis ini tertelan oleh derasnya hujan.
“Raka... Raka... Raka!!!”
Ditengah hujan, aku terus memanggil namanya. Hatiku terasa sangat perih. Sahabat yang paling kubanggakan, sahabat yang paling kupercaya melebih apa pun telah lenyap. Kenanganku dengan Raka luntur bersama turunnya hujan ini. Berkat Raka, hidupku jadi lebih berarti. Berkat Raka, aku jadi tahu artinya teman.
“Raka... Raka!!! Jangan pergi!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar