Minggu, 17 Juli 2011

My Star in Basket Club (part 3)

Esok harinya, aku melakukan aktifitasku seperti biasa disekolah. Mendengar ocehan para ‘fans’nya Indra. Karena suntuk dikelas dengan keributan itu, aku memutuskan untuk berdiam diri diperpustakan. Kebiasaanku saat istirahat. Walaupun sudah berusaha keras, tetap saja aku masih berada dibawah Indra. Otaknya memang luar biasa pintar sih. Jadinya sulit untuk mengalahkannya.
Disana tenang, hanya beberapa murid yang terlihat dalam perpustakaan itu. Aku mengambil buku yang sering sekali kupinjam. Buku kumpulan cerita – cerita misteri. Aku memang penggemar fanatik cerita misteri.
“Hah... tenangnya disini,” kataku pelan. Entah kenapa rasanya sepi sekali. Memang wajar diperpustakaan sepi. Tapi, hatiku berkata lain. Apanya yang sepi? Bukannya wajar disini sepi? Aku jadi teringat akan pertama kali melihat Indra bermain basket digedung olahraga saat pulang sekolah. Sosoknya benar – benar keren waktu itu. Kupikir, dia tipe orang yang hanya berkutat pada prestasi dibidang akademik saja. Sejak saat itu, jantungku selalu bergerumuh melihatnya.
Duk! Ada yang memukul kepalaku dengan buku. Indra! Kenapa dia ada sini? Tanyaku.
“Ternyata dugaan gue bener,” bisiknya. “Kok loe betah sih disini?”
“Terserah dong,” kataku. “Loe ngapain kesini? Nggak nemenin ‘fans’ loe itu?”
“Males. Berisik banget mereka. Udah kayak wartawan aja nanya sana – sini. Gue kan bukan artis.”
“Yee, gimana sih loe ini? Loe kan idola disekolahan.”
“Udahlah, jangan dibahas,” katanya. “Loe masih suka baca tuh buku?”
“Yup. Keren sih. Trik – triknya gampang dimengerti.”
“Kagak ngarti gue jalan pikiran loe itu.”
“Ya udah. Jangan diambil pusing dong,” kataku. “Tapi, kok yang selalu juara kelas nggak ngerti trik sesederahana ini sih? Rasanya nggak mungkin banget deh.”
“Kagak tau lah. Mending tanya otak gue langsung aja,” canda Indra.
“Yee...”
Bel pulang berbunyi dengan nyaringnya yang diikuti dengan derasnya hujan. Padahal, tadi siang sangatlah terik. Begitu menjelang sore, awan mendung langsung menyerbu dan menurunkan air matanya. Aku hanya bisa memandang keluar jendela hingga hujan benar – benar berhenti. Kulihat ada beberapa pengendara motor yang nekat pulang tanpa jas hujan. Yang membawa jas hujan pun juga nampak tenang saja.
Aku ingin sekali pulang. Masih ada beberapa tugas yang harus kuselesaikan. Mataku tertuju pada seseorang yang sedang bersama seseorang. Hatiku berdebar tak karuan melihatnya. Indra dengan seorang cewek. Yang membuatku tambah terkejut adalah cewek itu Dina. Kenapa dia sama Indra? Terus, mana Ahmad?
“Sudah gue duga. Pasti Indra,” kata Ahmad dari belakang.
“A-Ahmad!!”
“ Gue bener – bener udah dicampakkan.”
“Kok bisa sih?” tanyaku.
“Mungkin aja lah. Toh, Indra idola semua cewek disekolah ini. Termasuk Dina juga. Hah... padahal besok hari jadi kami yang setahun,” kecewa Ahmad. Aku hanya diam memandang Indra dan Dina dari jendela dilantai dua. Kenapa Dina bisa setega ini ninggalin Ahmad? Bukannya dia sendiri yang bilang cinta mati sama Ahmad? Akh!! Aku tidak mengerti.
“Loh... loe mau kemana, Sar?” tanya Ahmad. “Jangan bilang loe mau nekat pulang?”
“Lah emang. Bosen disekolah,” kataku. “Lagian, sekalian maen air. Duluan ya,” kataku. Sebelum benar – benar pulang, terlebih dulu aku meminta satu kantong plastik untuk buku – bukuku biar nggak basah. Kubungkus, kuikat kuat – kuat, dan kumasukkan dalam tasku. Barulah aku berjalan sampai rumah. Memang cukup jauh dan memakan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan kaki. Tapi, biarlah. Daripada naik angkot basah – basahan.
Untunglah, orang tuaku dan kakakku belum pulang. Jadinya, tak akan kenal omelan. Aku langsung mengganti bajuku dan pergi keluar lagi. Kali ini pergi kelapangan basket itu dan bermain disana. Aku mencoba dan mencoba memasukkan bola kedalam ring. Tapi, tetap saja gagal. Air mataku ikut berjatuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar