Jumat, 15 Juli 2011

Cinta yang Salah (part 1)

Apa jadinya jika orang yang kau sayangi mengkhianatimu? Marah? Benci? Dendam? Tak ada satu pun orang yang bisa dipercayai dengan sepenuhnya. Sebesar apapun kita mempercayainya, akhir akan mengkhianati kita juga. Tak ada orang yang sempurna didunia ini...


“Lisa, met pagi,” sapa Sari.

“Met pagi,” balasku.

“Tumben nich sendirian? Nggak bareng ama Rahlan?”

Aku terkejut mendengar nama Rahlan. Wajahku pun merah bagaikan udang rebus. “A… apaan sich?”

“Sebetulnya loe suka kan ama dia?” Tanya Sari.

“Mungkin,” kataku datar.

“Kok mungkin sich? Kenapa nggak loe tembak aja dia? Gue pikir dia juga sama loe.”

“Nggak mungkinlah, Sar. Gue nggak ingin melakukan hal macam itu. Gue dan Rahlan hanya temenan.”

“Beneran?”

“Yup. Sangat.”

Yach, beginilah keadaanku tiap pagi. Pasti ada saja Sari yang mengoceh tentang Rahlan. Rahlan adalah teman baikku. Orangnya sangat baik. Dan mungkin juga, aku menyukai dia. Tapi sejak aku pisah kelas dengan dia, aku jarang sekali bertemu dengannya. Bahkan bicara saja tidak pernah.

Bel masuk berbunyi dengan nyaring. Guru pun segera masuk untuk mengajarkan sesuatu yang baru. Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Indonesia dan aku sangat menyukai pelajaran itu. Kalau mendengarkan dengan seksama, ada saja yang terlintas dipikiranku tentang apa yang akan aku tulis. Walaupun aku hanya murid biasa, aku punya hobi yang mungkin jarang sekali ada diantar remaja yang lainnya. Hobiku itu menulis.

Akhirnya bel pulang berbunyi. Aku segera membereskan barang – barangku.

“Hei Lisa,” panggil salah satu temanku. “Ada yang manggil nich.”

“Ya.” Aku segera menghampiri siapa yang memanggilku. Dan ternyata itu adalah Rahlan.

“Tumben – tumbenan nich,” kataku.

“Ayo pulang. Kamu selalu lama ya kalo melakukan sesuatu.”

“Kamu nungguin aku?”

Rahlan hanya diam saja dan mengangguk pelan.

“Oke. Ayo pulang.”

Sudah lama sekali aku tak pulang bareng dengan Rahlan. Rumah kami berdua memang tak jauh dari sekolah. Jadi, hanya perlu jalan kaki selama 10 menit saja. Selama perjalanan, kami terus saja tertawa. Kalo bersama Rahlan apapun menjadi menyenangkan. Tiba – tiba saja, Rahlan menghentikan langkahnya.

“Ada apa?”

“Lisa, apa ada orang yang loe suka saat ini?” Tanya Rahlan.

“Kenapa loe tanyakan hal itu?”

“Apakah gue belum terlambat kalo ngomong hal ini?”

“Ngomong paan?”

“Kalo… gue…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar