Rabu, 13 Juli 2011

Ditinggal Seorang Sahabat (part 1)

Sahabat adalah orang yang paling kita percaya setelah keluarga. Ia adalah orang selalu bersama saat suka maupun duka. Bersama dan terus menjaga tali persahabatannya. Merasakan sepi saat ia tidak ada. Merasakan bahagia saat ia tersenyum. Merasakan sedih saat ia sedang tertimpa masalah. Dan merasakan sendiri saat ia sudah tidak bisa disisi kita lagi.

“Lagi – lagi bengong,” tegur Raka yang membuyarkan lamunanku.
“Ah... eh... nggak. Nggak kok, nggak bengong.”
“Ya sudah. Kita udahan dulu belajarnya,” kata Raka sambil membereskan buku – buku miliknya.
“Loh? Kok udahan? Aku kan belum paham.”
“Habis, kamu bengong mulu. Udah tau lagi diajarin juga.”
“Maap deh. Aku janji nggak akan bengong lagi. Jadi, sekarang ajarin aku lagi,” pintaku.
“Baiklah. Jangan bengong lagi ya.”
“Baik, kapten.”
Aku mulai serius dan mendengarkan penjelasan dari Raka. Dihari Sabtu dan Minggu memang sudah kegiatan rutinku untuk belajar bersamanya. Mungkin lebih tepatnya, minta diajarkan. Terlebih jika pelajaran eksak seperti fisika dan matematika. Aku pasti minta dia mengajarkanku.
Tapi akhir – akhir ini, kenanganku dulu, entah mengapa bangkit kembali. Kenangan saat aku bertemu dengan Raka. Orang yang sudah kuanggap sebagai sahabat dan sudah mengubah hidupku.
Sewaktu kecil, aku jarang sekali bermain keluar seperti anak kecil pada umumnya. Aku lebih memilih diam dirumah dan melakukan hal lain daripada main keluar. Ingin sekali keluar dan bermain, tetapi tidak yakin mereka akan mengajakku bergabung.
Disaat aku sedang melihat mereka asyik bermain, seorang anak laki – laki datang padaku. Ya. Itulah Raka. Rakalah teman pertamaku dulu. Orang yang berhasil menarikku dari tempat yang gelap ketempat yang terang seperti sekarang ini. Makanya, dia sangat berharga bagiku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar