Esok hari yang sudah kutunggu. Aku bangun dan bersiap menunggu dilapangan dekat rumahku. Tak lupa aku membawa bola basketku dan berjalan kesana. Disana sudah ada yang bermain basket. Pantulan bola basket terdengar seperti suara musik yang tegas. Aku memperhatikan sosoknya yang sedang bermain dengan tenangnya. Melihatnya bermain, hatiku jadi ingin ikut bermain juga.
“Udah... dateng rupanya,” kata Indra dengan napas yang terengah – engah. “Telat.”
“Maaf, telat. Kesiangan nih bangunnya,” kataku bohong. Padahal aku sudah ada disana saat dia asyik bermain. Dianya saja yang tidak sadar kehadiranku.
“Oke. Karena loe telat, lari dulu 15 kali.”
“Dih... parah aja. Sepuluh ya,” tawarku.
“Oh... tidak bisa. Sekali 15, tetap 15.”
“Pelit” kataku sambil menjulurkan lidah. Aku mulai berlari mengeliling lapangan. Sedangkan Indra masih sibuk dengan latihannya mencetak three point. Masuk dan kadang tidak masuk. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi kalau sedang bersamanya. Hatiku selalu bergerumuh dan berdebar tak karuan. Dengan napas yang masih terengah – engah, aku duduk didekat ring.
“Hah... hah... capek...”
“Payah nih. Baru 15 keliling aja udah capek,” ejek Indra.
“Sialan loe. Gue kan cewek, tenaganya nggak kayak loe yang seorang cowok.”
“Hahaha, bukannya loe cowok? Kok ngaku cewek?” goda Indra.
Aku merasa kesal dengan Indra. Kulempar bolaku tepat kearahnya. Sialnya, bolanya malah ditangkap dan langsung dilempar kering. Kenapa orang ini bisa sehebat ini sih? Batinku.
“Ayo dong. Jangan duduk aja. Katanya mau latian biar jago.”
“Tunggu dulu dong. Masih capek nih.”
“Payah nih Sarah.”
Aku hanya memalingkan wajahku darinya karena merasa kesal. Terpaksa, aku mengikuti caranya dan ikut bermain. Kami saling berebut bola dan memasukkan kedalam ring. Tapi, tiba – tiba saja perutku terasa sakit seperti ditarik. Aku berusaha menyembunyikan rasa sakit ini dari Indra. Aku nggak ingin merepotkannya.
“Istirahat dulu deh,” kata Indra tiba – tiba.
“Hah? Kok berhenti? Baru sebentar maen,” kataku. Indra hanya diam. Dia pergi kearah motornya dan memberiku sebotol air mineral.
“Nih. Minum dulu,” katanya. Aku menerima botol itu dan langsung menegaknya. Apa mungkin dia tau kalo perutku sakit? Nggak mungkin. Aku memang sering seperti ini jika terlalu memaksakan diri berolahraga. Perutku sakit seperti ditarik dan ditusuk. Tak jarang juga, aku sering kesakitan saat latian. Makanya, tiap kali mulai terasa sakit, aku berusaha untuk menyembunyikannya. Aku juga tidak bercerita pada orang tuaku. Aku takut mereka akan khawatir.
“Kalo udah terasa sakit langsung bilang. Jangan didiemin aja,” kata Indra pelan. “Udah tau kondisi kayak gitu malah dipaksaiin. Kenapa nggak ngomong sama orang tua loe?”
“Nggak ah. Gue takut mereka jadi khawatir lagi.”
“Justru itu. Loe cerita keorang tua loe, biar diperiksa.”
“Udahlah. Kan yang penting gue nggak kenapa – napa. Udah yak, jangan dibahas lagi,” pintaku.
“Kalo itu mau loe,” kata Indra. “Kayaknya kita keasyikan maen nih ampe udah siang begini. Besok kan masih sekolah, lebih baik gue pulang. Maaf ya, nggak bisa kerumah loe.”
“Tak apa. Kan masih lain waktu.”
“Padahal, gue laper banget nih.”
“Hahaha, terserah kau saja.”
Indra langsung membereskan barang – barangnya dan menyalakan mesin motornya. “Istirahat, Rah,” pesannya sebelum pulang.
“Bawel nih, Indra,” gumamku. Aku mengambil bolaku dan pulang kerumah. Perjalanan pulang, tak hentinya aku memegangi perutku yang masih terasa nyeri. Aku harus bertahan sampai rumah dan istirahat yang bener. Kalo dibiarin juga ntar pasti hilang. Sesampainya dirumah, aku langsung mengganti bajuku dan tidur.
“Hah... sekarang agak mendingan,” kataku pelan. Dering Hp-ku berbunyi dengan nyaring. Aku langsung membuka Hp-ku dan melihat pesan yang baru saja datang.
‘Gimana? Udah mendingan?’
Aku hanya tersenyum melihat isi pesan itu. Tumben – tumbenan nih orang perhatian banget. Biasanya mah cueknya minta ampun, batinku. Dengan cepat, aku membalas pesannya dengan singkat. Kemudian, aku men-silent Hp-ku dan tidur sejenak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar