Esok paginya, aku mencoba menelpon ke handphone Raka. Tapi, tidak diangkat olehnya. “Aneh. Tumben sekali dia tidak menjawab teleponku.”
“Runa, mau sampai kapan kau dikamar? Kau bisa terlambat kesekolah,” panggil ibu dari bawah.
“Ya. Sebentar, Bu.” Aku buru – buru mengirimi SMS untuk Raka dan berangkat kesekolah. Sedari pelajaran pertama, hatiku selalu berdebar tidak karuan. Pikiran buruk berkeliaran dalam pikiran bodohku ini. Aku berusaha berkonsentrasi pada pelajaran karena sebentar lagi Ulangan Semester. Tapi, tetap saja pikiranku masih bersangkut pada Raka.
Pulang sekolah, aku langsung pergi kerumah Raka. Keadaannya sangat sepi seperti biasa. Aku memencet bel rumahnya, tidak ada yang menjawabnya. Keadaan rumah Raka benar – benar kosong. Dengan perasaan kecewa, aku melangkahkan kakiku untuk pulang.
Malam harinya, hujan turun dengan lebatnya. Hawa dingin menyelimuti kamarku dan membuatku malas untuk belajar. Aku berusaha untuk tetap belajar, namun sia – sia. Mataku sama sekali tidak bisa diajak berdiskusi.
Dalam kegelapan malam itu juga, aku melihat sosok didepan rumahku melalui jendela kamar. Sosok yang nyaris tidak kelihatan karena hujan dan gelapnya malam. Tapi, aku bisa sangat yakin akan sosok orang itu. Aku segera turun dan melihatnya.
“Raka!” seruku. “Kenapa kau kesini malam – malam?”
“Runa... aku...”
“Masuklah dulu.”
Aku menyuruhnya masuk dan memberikannya selembar handuk untuk mengeringkan dirinya. Aku juga memberikannya segelas teh hangat. Kebetulan orang tuaku pulang terlambat. Dan dirumah, hanya ada aku dan adikku. Adikku juga sedang bermain dikamarnya.
“Raka, kamu baik – baik saja, kan?” tanyaku.
Raka hanya diam saja. Tubuhnya kelihatan bergetar sekali. Ditengah derasnya hujan, aku mendengar dia menangis. Walaupun ditahan, tapi masih terdengar dengan jelas.
“Raka?”
“Aku... sudah tidak tahu harus berbuat apa supaya ayah sadar,” katanya. “Ternyata Tante Sarah hanyalah memanfaatkan ayah. Kemarin, tidak sengaja aku mendengar Tante Sarah berbicara dengan seseorang ditelepon. Dia mendekati ayah, hanya untuk mencari kekayaan!
“Saat, aku memutuskan untuk tidak menerima Tante Sarah sebagai ibuku, beliau memarahiku. Aku menjelaskannya padanya. Tapi, ayah tidak mau mendengarkanku. Dia akan tetap menikahi Tante Sarah. Aku sudah tidak tahu lagi harus berkata apa pada ayah, supaya ayah mengerti.”
Mendengar cerita Raka, hatiku seolah ditusuk jarum. Aku berusaha menenangkan Raka. Melihat sahabatku terluka seperti ini, hatiku juga ikut terluka. Aku ingin Raka tersenyum seperti biasanya. Tidak ingin melihat dia sedih seperti ini.
Tak lama kemudian, ayah Raka pun menikahi Tante Sarah. Aku melihat Raka yang berusaha tersenyum. Aku sangat yakin, dia pasti sangat sedih salam hatinya. Sejak saat itu, aku jadi jarang sekali bertemu dengan Raka. Kutelepon pun, Raka tidak mau menjawabnya. Aku ingin membuatnya tersenyum lagi. Tapi, bagaimana caranya?
Diruang keluarga, aku mendengar perbincangan ayah dan ibuku. Beliau bilang, kemarin ada yang kecelakan. Seorang anak SMP tertabrak sebuah mobil truk. Perasaanku mendadak menjadi tidak enak. Aku segera berlari menuju rumah Raka. Disana, aku melihat ayah Raka dengan wajah pucat yang akan pergi.
“Rupanya kau, Runa.”
“Om ingin pergi kemana?” tanyaku.
“Om ingin kerumah sakit.”
“Untuk apa?”
“Raka masuk rumah sakit. Dia kecelakaan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar