“Haduh, susah sekali. Aku sama sekali tidak mengerti,” kataku.
“Hahaha, makanya tiap malam belajar. Jangan baca komik terus,” ledek Raka.
“Tapi, aku memang suka membaca komik. Itu udah jadi hobi tau. Nggak bisa dihentikan.”
“Dasar anak manga.”
“Waduh, gawat! Udah sore banget nih. Ayah sama ibu pasti marah – marah deh,” panikku. Dengan segera aku membereskan buku milikku dan pamitan pada Raka.
Sebenarnya aku ingin lebih lama bersamanya. Aku merasa sedikit kasihan padanya yang selalu ditinggal ayahnya bekerja. Sebenarnya, orang tuaku juga selalu sibuk bekerja. Tapi, mereka selalu menyempatkan pulang sebelum malam tiba. Berbeda sekali dengan ayah Raka yang selalu pulang malam. Bahkan nyaris tidak pulang. Sedangkan ibunya, sudah lama meninggalkan Raka dan ayahnya.
Dan benar dugaanku. Walaupun tidak marah besar, tapi bisa dilihat dari wajah beliau yang kelihatan marah. Aku hanya tersenyum kecil dan langsung masuk kekamar.
Aku mulai membuka catatanku kembali. Aku berusaha keras untuk memahami apa yang diterangkan Raka tadi. Tapi, tetap saja kemampuanku sangat payah.
Aku menghela napas berat dan tiduran dikasurku. Pikiranku melayang kemana – mana. Sudah nyaris 9 tahun kami bersama dan Raka sudah banyak berubah. Yah, walaupun kami berbeda sekolah, Raka selalu menceritakan harinya disekolah. Mulai dari dirinya yang selalu ditembak oleh cewek teman sekelasnya. Sampai hal – hal yang sepele.
Aku juga terkadang mencurahkan isi hatiku padanya. Aku memang terbuka jika bersamanya. Tapi, terkadang, melihat kedekatan Raka dengan teman – temannya, aku merasa iri. Aku memang memiliki teman, tapi tak jarang aku mengambil jarak dari mereka. Mungkin sudah takdirku, jika aku sendirian.
Keesokkan harinya, usai sekolah, aku kembali kerumah Raka untuk bertanya beberapa soal pelajaran. Keadaan rumahnya sangat sepi. Kupencet bel berkali – kali, tidak ada yang menjawab. Lama aku menunggu dan menunggu, tapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya aku kembali dengan perasaan kecewa.
“Loh... Runa? Sedang apa kau disini?”
“Ya nungguin kamulah.”
“Ayo masuk,” ajak Raka.
Tak lama, aku langsung menanyakan soal eksak pada Raka. Dan disaat itu juga, sempat – sempatnya Raka melontarkan candaannya yang tidak lucu. Tapi, entah kenapa aku merasa itu adalah hal yang lucu. Ditengah – tengah tawa kami yang meledak, suara mobil terdengar dari luar. Ternyata itu ayah Raka. Beliau datang bersama dengan wanita yang sangat cantik. Tubuhnya langsing dan putih bagaikan boneka.
“Eh, ada Runa rupanya.”
Aku dan Raka langsung mencium tangan ayah Raka dan wanita itu. “Raka, ayah ingin memperkenalkan ibu baru untukmu.”
“Ibu... baruku?” tanya Raka.
“Ya. Ayah tahu, kamu pasti tidak bisa melupakan ibumu. Tapi, ayah ingin membangun keluarga kita lagi.”
“Kau mau kan menerima Tante Sarah menjadi ibumu?” tanya Tante Sarah.
“Ayah... boleh aku memikirkan sebentar akan hal ini?” tanya Raka.
“Tentu. Ini adalah keputusan yang sangat penting.”
Aku mulai sadar, kalau wajah Raka berubah pucat. Aku bertanya, apa dia baik – baik saja. Dia hanya tersenyum kecil padaku dan bilang baik – baik saja. Tentu aku merasa kalau senyuman Raka itu dipaksakan.
“Lebih baik aku pulang. Aku tidak ingin menggangu keputusanmu,” kataku.
“Mau kuantar?”
“Tidak usah. Aku kan bukan anak kecil lagi.”
Aku buru – buru melangkahkan kakiku. Melihat wajah Raka barusan, membuat dadaku terasa sesak. Aku tidak tau mengapa, tapi semoga saja bukan hal buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar