“Loh? Kenapa gue nangis? Kan nggak ada yang sedih?” tanyaku pada diriku sendiri. Aku langsung menyekanya dengan punggung tanganku yang basah. Tidak bisa. Tidak mau berhenti. Hatiku terasa perih. Kenapa hatiku seperih ini? Bukankah itu haknya Dina untuk menentukan siapa pasangannya? Tapi, kenapa hatiku tidak rela? Air mataku terus berjatuhan tanpa bisa kuhentikan. Ditengah hujan yang deras ini, aku sama sekali tak bisa merasakan tanganku. Tanganku seolah mati rasa.
Terpintas, aku mendengar suara motor lewat. Tapi, tak kupedulikan. Kalaupun itu orang tuaku, aku tak ingin pulang. Masih ingin berada disini. Masih ingin berada dilapangan yang sering kupakai bersama Indra. Ada yang menutupiku dengan jaket. Jaket itu basah dan aku mengenali model jaket ini. Kudongakkan keatas dan melihatnya.
“Bego! Ngapain loe ada disini?!” bentak Indra. Aku hanya diam melihatnya. Kenapa dia ada disini sih?!
“Loe mau mati kedinginan?!”
“Biarin aja. Toh, itu keinginanku dari dulu,” kataku pelan. Kami berdua terdiam. Suara hujan yang mengguyur bumi terdengar sangat jelas dan makin deras.
“Ya udah! Mati aja sana! Kagak peduli gue,” kata Indra. Dia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi. Tubuhku gemetaran. Bukan karena dinginnya hujan, tapi karena kata – kata Indra barusan. Tanpa kusadari, tanganku mencegah Indra untuk pergi. Aku ingin berkata sesuatu, tapi mulutku tak mau mengeluarkan suara.
“Gue... gue... nggak pengen mati...” kataku. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya. “Karena... gue... suka sama loe, Ndra. Suka!”
Indra hanya diam dan mengajakku pulang. Sudah kukatakan, kan? Tanyaku. Sampainya dirumah, aku langsung memberikan Indra selembar handuk dan juga baju milik kakakku. Mungkin kakak nggak bakalan keberatan.
“Hei, mau minum sesuatu?” tanyaku.
Indra hanya diam. Entah marah atau apa, dia kelihatan tak ingin berbicara padaku. Aku duduk disebelahnya. Waktu terasa berhenti diruangan ini. Rasanya sesak dan sulit sekali untuk bernapas. Sebenarnya, aku ingin bertanya padanya, apa yang ia lakukan bersama Dina disekolah tadi? Tapi, aku takut. Seolah bisa membaca perasaanku, Indra langsung menceritakannya padaku.
“Gue cuman nganterin Dina kerumahnya kok,” kata Indra mulai bercerita. “Adeknya sakit dan nggak ada siapa – siapa dirumah. Sedangkan, Ahmad lagi nggak bawa motor dan nggak bisa nganter Dina. Sempet cekcok sih mereka berdua. Padahal, Dina cuman bercanda dengan kata – katanya, tapi Ahmad malah nanggepin serius. Ya udah, dia minta anterin gue.”
“O-oh... maaf... gue sempet mikir yang bukan – bukan,” sesalku.
Indra kembali diam. Dia bangkit dari kursi dan berjalan menuju garasi.
“Udah mau balik?” tanyaku. “Kan masih ujan.”
“Liat baik – baik dong,” kata Indra sambil menunjuk jendela. Hujan sudah berhenti dan mulai menurunkan rintik – rintik. Aku mengantarkannya kegarasi. Indra mulai menyalakan mesin motornya. Aku ingin bertanya padanya, apa jawaban dari pernyataanku. Tapi, itu tidak penting. Saat itu, aku pasti sedang lepas emosi.
“Oh iya,” kata Indra. “Hampir aja kelupaan.”
“Apaan?”
“Soal perkataan loe waktu dilapangan tadi.”
Mendadak wajahku memanas. Kenapa Indra bisa mengingatnya? Batinku. “Gue bakal jawab, kalo loe udah bisa nyetak three point,” katanya lagi.
“Lupakan saja. Sampe mati pun, gue nggak bakalan bisa nyetak three point. Mustahil,” kataku. Indra hanya tersenyum padaku dan mendekat kearahku. Sedetik kemudian, dia mencium keningku. Spontan, aku tersontak kaget dengan tindakannya.
“Tanpa gue bilang juga, loe pasti udah bisa nebak dari apa yang gue lakuin ke loe tadi, kan?” kata Indra. Aku hanya menyentuh keningku dengan perasaan berdebar – debar.
“Tapi, gimana dengan fans loe?” tanyaku. “Bisa habis gue nanti, kalo loe pacaran sama orang macem gue ini.”
“Ya ilah, tenang aja. Gue bakalan ngelindungin loe dari amukan ‘fans’ gue itu. Jadi, kamu nggak usah khawatir.”
Mendengar Indra memanggilku dengan sebutan “kamu,” aku menjadi salah tingkah sendiri. Rasanya aneh sekali bagi kami memanggil “aku” dan “kamu.”
“Okeh. Aku pulang dulu ya. Jangan keluar rumah lagi. Ntar sakit lagi,” pesan Indra.
“Mm. Hati – hati,” kataku. Sesaat sebelum Indra pergi, dia sempat berbisik padaku.
“Aku juga sayang kamu, Sarah.”
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Rasanya seperti mimpi perasaanku bisa terbalas seperti ini. Kupikir, perasaanku ini hanya akan kusimpan terus. Tapi, menguap begitu saja. Aku hanya berjanji padaku diriku sendiri. Aku tak akan menyia – nyiakan hal terindah yang diberikan Tuhan kepadaku ini. Aku akan menjaganya.
Aku hanya menuliskan apa yang ada didalam pikiranku. Entah itu sebuah cerita atau hanya puisi amatiran. Karena aku bukanlah seorang novelis. Dan bukan juga seorang puitis. Aku hanya gadis yang suka berimajinasi dan berkhayal mengenai alur sebuah cerita. Memainkan peran bagaikan memainkan boneka kecil. Sampai bertemu dengan sebuah "akhir" yang menakjubkan.
Minggu, 17 Juli 2011
My Star in Basket Club (part 3)
Esok harinya, aku melakukan aktifitasku seperti biasa disekolah. Mendengar ocehan para ‘fans’nya Indra. Karena suntuk dikelas dengan keributan itu, aku memutuskan untuk berdiam diri diperpustakan. Kebiasaanku saat istirahat. Walaupun sudah berusaha keras, tetap saja aku masih berada dibawah Indra. Otaknya memang luar biasa pintar sih. Jadinya sulit untuk mengalahkannya.
Disana tenang, hanya beberapa murid yang terlihat dalam perpustakaan itu. Aku mengambil buku yang sering sekali kupinjam. Buku kumpulan cerita – cerita misteri. Aku memang penggemar fanatik cerita misteri.
“Hah... tenangnya disini,” kataku pelan. Entah kenapa rasanya sepi sekali. Memang wajar diperpustakaan sepi. Tapi, hatiku berkata lain. Apanya yang sepi? Bukannya wajar disini sepi? Aku jadi teringat akan pertama kali melihat Indra bermain basket digedung olahraga saat pulang sekolah. Sosoknya benar – benar keren waktu itu. Kupikir, dia tipe orang yang hanya berkutat pada prestasi dibidang akademik saja. Sejak saat itu, jantungku selalu bergerumuh melihatnya.
Duk! Ada yang memukul kepalaku dengan buku. Indra! Kenapa dia ada sini? Tanyaku.
“Ternyata dugaan gue bener,” bisiknya. “Kok loe betah sih disini?”
“Terserah dong,” kataku. “Loe ngapain kesini? Nggak nemenin ‘fans’ loe itu?”
“Males. Berisik banget mereka. Udah kayak wartawan aja nanya sana – sini. Gue kan bukan artis.”
“Yee, gimana sih loe ini? Loe kan idola disekolahan.”
“Udahlah, jangan dibahas,” katanya. “Loe masih suka baca tuh buku?”
“Yup. Keren sih. Trik – triknya gampang dimengerti.”
“Kagak ngarti gue jalan pikiran loe itu.”
“Ya udah. Jangan diambil pusing dong,” kataku. “Tapi, kok yang selalu juara kelas nggak ngerti trik sesederahana ini sih? Rasanya nggak mungkin banget deh.”
“Kagak tau lah. Mending tanya otak gue langsung aja,” canda Indra.
“Yee...”
Bel pulang berbunyi dengan nyaringnya yang diikuti dengan derasnya hujan. Padahal, tadi siang sangatlah terik. Begitu menjelang sore, awan mendung langsung menyerbu dan menurunkan air matanya. Aku hanya bisa memandang keluar jendela hingga hujan benar – benar berhenti. Kulihat ada beberapa pengendara motor yang nekat pulang tanpa jas hujan. Yang membawa jas hujan pun juga nampak tenang saja.
Aku ingin sekali pulang. Masih ada beberapa tugas yang harus kuselesaikan. Mataku tertuju pada seseorang yang sedang bersama seseorang. Hatiku berdebar tak karuan melihatnya. Indra dengan seorang cewek. Yang membuatku tambah terkejut adalah cewek itu Dina. Kenapa dia sama Indra? Terus, mana Ahmad?
“Sudah gue duga. Pasti Indra,” kata Ahmad dari belakang.
“A-Ahmad!!”
“ Gue bener – bener udah dicampakkan.”
“Kok bisa sih?” tanyaku.
“Mungkin aja lah. Toh, Indra idola semua cewek disekolah ini. Termasuk Dina juga. Hah... padahal besok hari jadi kami yang setahun,” kecewa Ahmad. Aku hanya diam memandang Indra dan Dina dari jendela dilantai dua. Kenapa Dina bisa setega ini ninggalin Ahmad? Bukannya dia sendiri yang bilang cinta mati sama Ahmad? Akh!! Aku tidak mengerti.
“Loh... loe mau kemana, Sar?” tanya Ahmad. “Jangan bilang loe mau nekat pulang?”
“Lah emang. Bosen disekolah,” kataku. “Lagian, sekalian maen air. Duluan ya,” kataku. Sebelum benar – benar pulang, terlebih dulu aku meminta satu kantong plastik untuk buku – bukuku biar nggak basah. Kubungkus, kuikat kuat – kuat, dan kumasukkan dalam tasku. Barulah aku berjalan sampai rumah. Memang cukup jauh dan memakan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan kaki. Tapi, biarlah. Daripada naik angkot basah – basahan.
Untunglah, orang tuaku dan kakakku belum pulang. Jadinya, tak akan kenal omelan. Aku langsung mengganti bajuku dan pergi keluar lagi. Kali ini pergi kelapangan basket itu dan bermain disana. Aku mencoba dan mencoba memasukkan bola kedalam ring. Tapi, tetap saja gagal. Air mataku ikut berjatuhan.
Disana tenang, hanya beberapa murid yang terlihat dalam perpustakaan itu. Aku mengambil buku yang sering sekali kupinjam. Buku kumpulan cerita – cerita misteri. Aku memang penggemar fanatik cerita misteri.
“Hah... tenangnya disini,” kataku pelan. Entah kenapa rasanya sepi sekali. Memang wajar diperpustakaan sepi. Tapi, hatiku berkata lain. Apanya yang sepi? Bukannya wajar disini sepi? Aku jadi teringat akan pertama kali melihat Indra bermain basket digedung olahraga saat pulang sekolah. Sosoknya benar – benar keren waktu itu. Kupikir, dia tipe orang yang hanya berkutat pada prestasi dibidang akademik saja. Sejak saat itu, jantungku selalu bergerumuh melihatnya.
Duk! Ada yang memukul kepalaku dengan buku. Indra! Kenapa dia ada sini? Tanyaku.
“Ternyata dugaan gue bener,” bisiknya. “Kok loe betah sih disini?”
“Terserah dong,” kataku. “Loe ngapain kesini? Nggak nemenin ‘fans’ loe itu?”
“Males. Berisik banget mereka. Udah kayak wartawan aja nanya sana – sini. Gue kan bukan artis.”
“Yee, gimana sih loe ini? Loe kan idola disekolahan.”
“Udahlah, jangan dibahas,” katanya. “Loe masih suka baca tuh buku?”
“Yup. Keren sih. Trik – triknya gampang dimengerti.”
“Kagak ngarti gue jalan pikiran loe itu.”
“Ya udah. Jangan diambil pusing dong,” kataku. “Tapi, kok yang selalu juara kelas nggak ngerti trik sesederahana ini sih? Rasanya nggak mungkin banget deh.”
“Kagak tau lah. Mending tanya otak gue langsung aja,” canda Indra.
“Yee...”
Bel pulang berbunyi dengan nyaringnya yang diikuti dengan derasnya hujan. Padahal, tadi siang sangatlah terik. Begitu menjelang sore, awan mendung langsung menyerbu dan menurunkan air matanya. Aku hanya bisa memandang keluar jendela hingga hujan benar – benar berhenti. Kulihat ada beberapa pengendara motor yang nekat pulang tanpa jas hujan. Yang membawa jas hujan pun juga nampak tenang saja.
Aku ingin sekali pulang. Masih ada beberapa tugas yang harus kuselesaikan. Mataku tertuju pada seseorang yang sedang bersama seseorang. Hatiku berdebar tak karuan melihatnya. Indra dengan seorang cewek. Yang membuatku tambah terkejut adalah cewek itu Dina. Kenapa dia sama Indra? Terus, mana Ahmad?
“Sudah gue duga. Pasti Indra,” kata Ahmad dari belakang.
“A-Ahmad!!”
“ Gue bener – bener udah dicampakkan.”
“Kok bisa sih?” tanyaku.
“Mungkin aja lah. Toh, Indra idola semua cewek disekolah ini. Termasuk Dina juga. Hah... padahal besok hari jadi kami yang setahun,” kecewa Ahmad. Aku hanya diam memandang Indra dan Dina dari jendela dilantai dua. Kenapa Dina bisa setega ini ninggalin Ahmad? Bukannya dia sendiri yang bilang cinta mati sama Ahmad? Akh!! Aku tidak mengerti.
“Loh... loe mau kemana, Sar?” tanya Ahmad. “Jangan bilang loe mau nekat pulang?”
“Lah emang. Bosen disekolah,” kataku. “Lagian, sekalian maen air. Duluan ya,” kataku. Sebelum benar – benar pulang, terlebih dulu aku meminta satu kantong plastik untuk buku – bukuku biar nggak basah. Kubungkus, kuikat kuat – kuat, dan kumasukkan dalam tasku. Barulah aku berjalan sampai rumah. Memang cukup jauh dan memakan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan kaki. Tapi, biarlah. Daripada naik angkot basah – basahan.
Untunglah, orang tuaku dan kakakku belum pulang. Jadinya, tak akan kenal omelan. Aku langsung mengganti bajuku dan pergi keluar lagi. Kali ini pergi kelapangan basket itu dan bermain disana. Aku mencoba dan mencoba memasukkan bola kedalam ring. Tapi, tetap saja gagal. Air mataku ikut berjatuhan.
My Star in Basket Club (part 2)
Esok hari yang sudah kutunggu. Aku bangun dan bersiap menunggu dilapangan dekat rumahku. Tak lupa aku membawa bola basketku dan berjalan kesana. Disana sudah ada yang bermain basket. Pantulan bola basket terdengar seperti suara musik yang tegas. Aku memperhatikan sosoknya yang sedang bermain dengan tenangnya. Melihatnya bermain, hatiku jadi ingin ikut bermain juga.
“Udah... dateng rupanya,” kata Indra dengan napas yang terengah – engah. “Telat.”
“Maaf, telat. Kesiangan nih bangunnya,” kataku bohong. Padahal aku sudah ada disana saat dia asyik bermain. Dianya saja yang tidak sadar kehadiranku.
“Oke. Karena loe telat, lari dulu 15 kali.”
“Dih... parah aja. Sepuluh ya,” tawarku.
“Oh... tidak bisa. Sekali 15, tetap 15.”
“Pelit” kataku sambil menjulurkan lidah. Aku mulai berlari mengeliling lapangan. Sedangkan Indra masih sibuk dengan latihannya mencetak three point. Masuk dan kadang tidak masuk. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi kalau sedang bersamanya. Hatiku selalu bergerumuh dan berdebar tak karuan. Dengan napas yang masih terengah – engah, aku duduk didekat ring.
“Hah... hah... capek...”
“Payah nih. Baru 15 keliling aja udah capek,” ejek Indra.
“Sialan loe. Gue kan cewek, tenaganya nggak kayak loe yang seorang cowok.”
“Hahaha, bukannya loe cowok? Kok ngaku cewek?” goda Indra.
Aku merasa kesal dengan Indra. Kulempar bolaku tepat kearahnya. Sialnya, bolanya malah ditangkap dan langsung dilempar kering. Kenapa orang ini bisa sehebat ini sih? Batinku.
“Ayo dong. Jangan duduk aja. Katanya mau latian biar jago.”
“Tunggu dulu dong. Masih capek nih.”
“Payah nih Sarah.”
Aku hanya memalingkan wajahku darinya karena merasa kesal. Terpaksa, aku mengikuti caranya dan ikut bermain. Kami saling berebut bola dan memasukkan kedalam ring. Tapi, tiba – tiba saja perutku terasa sakit seperti ditarik. Aku berusaha menyembunyikan rasa sakit ini dari Indra. Aku nggak ingin merepotkannya.
“Istirahat dulu deh,” kata Indra tiba – tiba.
“Hah? Kok berhenti? Baru sebentar maen,” kataku. Indra hanya diam. Dia pergi kearah motornya dan memberiku sebotol air mineral.
“Nih. Minum dulu,” katanya. Aku menerima botol itu dan langsung menegaknya. Apa mungkin dia tau kalo perutku sakit? Nggak mungkin. Aku memang sering seperti ini jika terlalu memaksakan diri berolahraga. Perutku sakit seperti ditarik dan ditusuk. Tak jarang juga, aku sering kesakitan saat latian. Makanya, tiap kali mulai terasa sakit, aku berusaha untuk menyembunyikannya. Aku juga tidak bercerita pada orang tuaku. Aku takut mereka akan khawatir.
“Kalo udah terasa sakit langsung bilang. Jangan didiemin aja,” kata Indra pelan. “Udah tau kondisi kayak gitu malah dipaksaiin. Kenapa nggak ngomong sama orang tua loe?”
“Nggak ah. Gue takut mereka jadi khawatir lagi.”
“Justru itu. Loe cerita keorang tua loe, biar diperiksa.”
“Udahlah. Kan yang penting gue nggak kenapa – napa. Udah yak, jangan dibahas lagi,” pintaku.
“Kalo itu mau loe,” kata Indra. “Kayaknya kita keasyikan maen nih ampe udah siang begini. Besok kan masih sekolah, lebih baik gue pulang. Maaf ya, nggak bisa kerumah loe.”
“Tak apa. Kan masih lain waktu.”
“Padahal, gue laper banget nih.”
“Hahaha, terserah kau saja.”
Indra langsung membereskan barang – barangnya dan menyalakan mesin motornya. “Istirahat, Rah,” pesannya sebelum pulang.
“Bawel nih, Indra,” gumamku. Aku mengambil bolaku dan pulang kerumah. Perjalanan pulang, tak hentinya aku memegangi perutku yang masih terasa nyeri. Aku harus bertahan sampai rumah dan istirahat yang bener. Kalo dibiarin juga ntar pasti hilang. Sesampainya dirumah, aku langsung mengganti bajuku dan tidur.
“Hah... sekarang agak mendingan,” kataku pelan. Dering Hp-ku berbunyi dengan nyaring. Aku langsung membuka Hp-ku dan melihat pesan yang baru saja datang.
‘Gimana? Udah mendingan?’
Aku hanya tersenyum melihat isi pesan itu. Tumben – tumbenan nih orang perhatian banget. Biasanya mah cueknya minta ampun, batinku. Dengan cepat, aku membalas pesannya dengan singkat. Kemudian, aku men-silent Hp-ku dan tidur sejenak.
“Udah... dateng rupanya,” kata Indra dengan napas yang terengah – engah. “Telat.”
“Maaf, telat. Kesiangan nih bangunnya,” kataku bohong. Padahal aku sudah ada disana saat dia asyik bermain. Dianya saja yang tidak sadar kehadiranku.
“Oke. Karena loe telat, lari dulu 15 kali.”
“Dih... parah aja. Sepuluh ya,” tawarku.
“Oh... tidak bisa. Sekali 15, tetap 15.”
“Pelit” kataku sambil menjulurkan lidah. Aku mulai berlari mengeliling lapangan. Sedangkan Indra masih sibuk dengan latihannya mencetak three point. Masuk dan kadang tidak masuk. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi kalau sedang bersamanya. Hatiku selalu bergerumuh dan berdebar tak karuan. Dengan napas yang masih terengah – engah, aku duduk didekat ring.
“Hah... hah... capek...”
“Payah nih. Baru 15 keliling aja udah capek,” ejek Indra.
“Sialan loe. Gue kan cewek, tenaganya nggak kayak loe yang seorang cowok.”
“Hahaha, bukannya loe cowok? Kok ngaku cewek?” goda Indra.
Aku merasa kesal dengan Indra. Kulempar bolaku tepat kearahnya. Sialnya, bolanya malah ditangkap dan langsung dilempar kering. Kenapa orang ini bisa sehebat ini sih? Batinku.
“Ayo dong. Jangan duduk aja. Katanya mau latian biar jago.”
“Tunggu dulu dong. Masih capek nih.”
“Payah nih Sarah.”
Aku hanya memalingkan wajahku darinya karena merasa kesal. Terpaksa, aku mengikuti caranya dan ikut bermain. Kami saling berebut bola dan memasukkan kedalam ring. Tapi, tiba – tiba saja perutku terasa sakit seperti ditarik. Aku berusaha menyembunyikan rasa sakit ini dari Indra. Aku nggak ingin merepotkannya.
“Istirahat dulu deh,” kata Indra tiba – tiba.
“Hah? Kok berhenti? Baru sebentar maen,” kataku. Indra hanya diam. Dia pergi kearah motornya dan memberiku sebotol air mineral.
“Nih. Minum dulu,” katanya. Aku menerima botol itu dan langsung menegaknya. Apa mungkin dia tau kalo perutku sakit? Nggak mungkin. Aku memang sering seperti ini jika terlalu memaksakan diri berolahraga. Perutku sakit seperti ditarik dan ditusuk. Tak jarang juga, aku sering kesakitan saat latian. Makanya, tiap kali mulai terasa sakit, aku berusaha untuk menyembunyikannya. Aku juga tidak bercerita pada orang tuaku. Aku takut mereka akan khawatir.
“Kalo udah terasa sakit langsung bilang. Jangan didiemin aja,” kata Indra pelan. “Udah tau kondisi kayak gitu malah dipaksaiin. Kenapa nggak ngomong sama orang tua loe?”
“Nggak ah. Gue takut mereka jadi khawatir lagi.”
“Justru itu. Loe cerita keorang tua loe, biar diperiksa.”
“Udahlah. Kan yang penting gue nggak kenapa – napa. Udah yak, jangan dibahas lagi,” pintaku.
“Kalo itu mau loe,” kata Indra. “Kayaknya kita keasyikan maen nih ampe udah siang begini. Besok kan masih sekolah, lebih baik gue pulang. Maaf ya, nggak bisa kerumah loe.”
“Tak apa. Kan masih lain waktu.”
“Padahal, gue laper banget nih.”
“Hahaha, terserah kau saja.”
Indra langsung membereskan barang – barangnya dan menyalakan mesin motornya. “Istirahat, Rah,” pesannya sebelum pulang.
“Bawel nih, Indra,” gumamku. Aku mengambil bolaku dan pulang kerumah. Perjalanan pulang, tak hentinya aku memegangi perutku yang masih terasa nyeri. Aku harus bertahan sampai rumah dan istirahat yang bener. Kalo dibiarin juga ntar pasti hilang. Sesampainya dirumah, aku langsung mengganti bajuku dan tidur.
“Hah... sekarang agak mendingan,” kataku pelan. Dering Hp-ku berbunyi dengan nyaring. Aku langsung membuka Hp-ku dan melihat pesan yang baru saja datang.
‘Gimana? Udah mendingan?’
Aku hanya tersenyum melihat isi pesan itu. Tumben – tumbenan nih orang perhatian banget. Biasanya mah cueknya minta ampun, batinku. Dengan cepat, aku membalas pesannya dengan singkat. Kemudian, aku men-silent Hp-ku dan tidur sejenak.
My Star in Basket Club
Suara pantulan bola itu terdengar nyaring ditelingaku. Sosok yang memasukkan bola kedalam ring sungguh membuatku terpesona. Jantungku bergerumuh tak karuan. Dideretan bangku penonton itu, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas. Wajahnya yang berubah tiap kali menangkap bola, terlihat sangat menawan bagiku. Aku jadi ingin memiliki semuanya...
“Kyaa!! Indra keren banget!” pekik Dina. Aku yang berada disebelah Dina hanya diam dan masih berkonsentrasi pada latihanku. Aku juga melirik keluar gedung olahraga dan banyak sekali murid cewek yang memberi semangat untuk Indra. Aku menghela napas panjang dan mengambil handukku ditas.
“Hari ini Indra laku juga ya,” bisik Riska.
“Bukannya dia memang laku?” tanyaku.
“Benar juga.”
Indra memang idola dieskul basket sekolahku. Selain jago bermain basket, nilainya yang lumayan bagus, dan wajahnya diatas rata – rata. Tak heran, nyaris satu sekolah naksir padanya.
“Latihan hari pun keganggu karena berisik lagi ya. Jadi bosen, karena cuman Indra yang diperhatiin. Padahal kan gue lebih cakep daripada Indra,” canda kak Dika.
Semuanya hanya tertawa mendengar candaan kak Dika, salah satu alumni yang melatih eksul basket di sekolahku. Hari Sabtu yang selalu libur tak pernah menampakkan libur sekalipun. Murid – murid banyak yang melakukan ekul. Terutama eskul basket. Setiap kali latihan, banyak sekali orang – orang yang datang hanya untuk melihat idola mereka.
“Ada nggak enak juga tau jadi idola,” kata Indra tiba – tiba. “Males, kalo selalu dikerubungin.”
“Tapi, bukannya justru malah asik?” tanya Ahmad. “Muka loe juga nunjukkin.”
“Sialan loe!”
“Udah, udah,” lerai kak Dika. “Karena latian kita udah selesai, kita udahin aja dulu hari ini. Udah siang banget.”
Seperti biasa, sebelum pulang, kami berdoa terlebih dahulu dan mengucapkan semangat kami. “Go! BasketBall!” Setelah itu, kami semua bubar. Ada yang pergi kekantin untuk mengisi perut yang kosong, ada juga yang langsung pulang. Aku memutuskan untuk pergi kekantin sebentar. Hitung – hitung sambil istirahat sebentar. Menunggu makanan datang, kami semua bercanda seperti biasanya. Baru sebentar, para ‘penggemar’ Indra langsung mengerumuninya.
“Indra, pasti capek ya.”
“Kasian. Istirahat dulu deh.”
“Wah... wah... berisik lagi deh,” gumamku.
“Kayaknya, tiada hari tanpa ocehan dari para ‘fans’nya Indra ya,” sambung Dina. “Tapi, dia emang keren sih.”
“Hush! Inget! Loe udah punya. Noh, orangnya,” kataku sambil menunjuk Ahmad. Dina hanya tertawa mendengar omelanku. Setelah makanan sudah siap, aku langsung buru – buru menghabiskannya. Mendengar teriakan mereka, membuat kepalaku berdengung. Sebenarnya, aku juga punya rasa pada Indra. Tapi, nggak bisa kuungkapkan karena aku hanya teman biasa dan teman latihannya. Selesai makan dan membayarnya, aku langsung pamit pada yang lain. Aku berjalan menuju parkir dan melihatnya. Padahal, aku yakin sekali tadi dia masih ada dikantin.
“Kenapa loe disini? Ntar dicariin lho,” kataku.
“Sarah rupanya, gue kira siapa,” kata Indra. “Lagi menyendiri aja. Nggak boleh? Kalo dikerubungin mulu kan pusing.”
“Pusing atau kesenengan? Muka loe kagak ada raut pusingnya tuh.”
“Terserahlah,” katanya. “Loe udah mau pulang?”
“Yup. Males lama – lama disini.”
“Besok mau ikutan lagi? Kali ini dilapangan deket rumah loe. Sekalian mampir buat makan hehehe.”
“Yee... situ mau maen basket apa mau makan dirumah saya?” tukasku. “Ya udahlah. Kayak biasa kan?”
Indra mengacungkan jempolnya tanda benar. Aku hanya tertawa melihat tingkah lakunya. Setelah berpamitan padanya, aku langsung menyalakan mesin motorku dan melaju untuk pulang. Besok kami berdua akan latihan basket dilapangan dekat rumahku. Kadang didekat rumahnya, dan kadang didekat rumahku. Rumahnya memang lumayan jauh. Tapi, aku cukup senang berkunjung kesana walau hanya sekadar berlatih. Kami berdua memang suka latihan sembunyi – sembunyi. Tak jarang, jantungku selalu berdegup saat bersamanya. Tapi, aku lebih memilih menyimpan perasaanku. Aku tak ingin ada yang mengetahuinya.
“Kyaa!! Indra keren banget!” pekik Dina. Aku yang berada disebelah Dina hanya diam dan masih berkonsentrasi pada latihanku. Aku juga melirik keluar gedung olahraga dan banyak sekali murid cewek yang memberi semangat untuk Indra. Aku menghela napas panjang dan mengambil handukku ditas.
“Hari ini Indra laku juga ya,” bisik Riska.
“Bukannya dia memang laku?” tanyaku.
“Benar juga.”
Indra memang idola dieskul basket sekolahku. Selain jago bermain basket, nilainya yang lumayan bagus, dan wajahnya diatas rata – rata. Tak heran, nyaris satu sekolah naksir padanya.
“Latihan hari pun keganggu karena berisik lagi ya. Jadi bosen, karena cuman Indra yang diperhatiin. Padahal kan gue lebih cakep daripada Indra,” canda kak Dika.
Semuanya hanya tertawa mendengar candaan kak Dika, salah satu alumni yang melatih eksul basket di sekolahku. Hari Sabtu yang selalu libur tak pernah menampakkan libur sekalipun. Murid – murid banyak yang melakukan ekul. Terutama eskul basket. Setiap kali latihan, banyak sekali orang – orang yang datang hanya untuk melihat idola mereka.
“Ada nggak enak juga tau jadi idola,” kata Indra tiba – tiba. “Males, kalo selalu dikerubungin.”
“Tapi, bukannya justru malah asik?” tanya Ahmad. “Muka loe juga nunjukkin.”
“Sialan loe!”
“Udah, udah,” lerai kak Dika. “Karena latian kita udah selesai, kita udahin aja dulu hari ini. Udah siang banget.”
Seperti biasa, sebelum pulang, kami berdoa terlebih dahulu dan mengucapkan semangat kami. “Go! BasketBall!” Setelah itu, kami semua bubar. Ada yang pergi kekantin untuk mengisi perut yang kosong, ada juga yang langsung pulang. Aku memutuskan untuk pergi kekantin sebentar. Hitung – hitung sambil istirahat sebentar. Menunggu makanan datang, kami semua bercanda seperti biasanya. Baru sebentar, para ‘penggemar’ Indra langsung mengerumuninya.
“Indra, pasti capek ya.”
“Kasian. Istirahat dulu deh.”
“Wah... wah... berisik lagi deh,” gumamku.
“Kayaknya, tiada hari tanpa ocehan dari para ‘fans’nya Indra ya,” sambung Dina. “Tapi, dia emang keren sih.”
“Hush! Inget! Loe udah punya. Noh, orangnya,” kataku sambil menunjuk Ahmad. Dina hanya tertawa mendengar omelanku. Setelah makanan sudah siap, aku langsung buru – buru menghabiskannya. Mendengar teriakan mereka, membuat kepalaku berdengung. Sebenarnya, aku juga punya rasa pada Indra. Tapi, nggak bisa kuungkapkan karena aku hanya teman biasa dan teman latihannya. Selesai makan dan membayarnya, aku langsung pamit pada yang lain. Aku berjalan menuju parkir dan melihatnya. Padahal, aku yakin sekali tadi dia masih ada dikantin.
“Kenapa loe disini? Ntar dicariin lho,” kataku.
“Sarah rupanya, gue kira siapa,” kata Indra. “Lagi menyendiri aja. Nggak boleh? Kalo dikerubungin mulu kan pusing.”
“Pusing atau kesenengan? Muka loe kagak ada raut pusingnya tuh.”
“Terserahlah,” katanya. “Loe udah mau pulang?”
“Yup. Males lama – lama disini.”
“Besok mau ikutan lagi? Kali ini dilapangan deket rumah loe. Sekalian mampir buat makan hehehe.”
“Yee... situ mau maen basket apa mau makan dirumah saya?” tukasku. “Ya udahlah. Kayak biasa kan?”
Indra mengacungkan jempolnya tanda benar. Aku hanya tertawa melihat tingkah lakunya. Setelah berpamitan padanya, aku langsung menyalakan mesin motorku dan melaju untuk pulang. Besok kami berdua akan latihan basket dilapangan dekat rumahku. Kadang didekat rumahnya, dan kadang didekat rumahku. Rumahnya memang lumayan jauh. Tapi, aku cukup senang berkunjung kesana walau hanya sekadar berlatih. Kami berdua memang suka latihan sembunyi – sembunyi. Tak jarang, jantungku selalu berdegup saat bersamanya. Tapi, aku lebih memilih menyimpan perasaanku. Aku tak ingin ada yang mengetahuinya.
Jumat, 15 Juli 2011
Cinta yang Salah (part 2)
“Kalo… gue…”
Aku menunggu Rahlan melanjutkan omongannya.
“Kalo gue… suka ama loe?”
Jantungku terasa ingin copot. Aku sama sekali tak menyangka kalo Rahlan akan berkata seperti itu.
“Sebaiknya, loe piker – piker dulu,” kata Rahlan.
“Baiklah.”
Rahlan mengenggam tanganku dengan erat dan berkata , “ayo aku antar kau pulang.” Aku hanya mengikuti langkah Rahlan dari belakang. Hari sudah sore, udara mulai dingin karena sekarang sudah masuk musim hujan. Sejak Rahlan berbicara mengenai perasaannya, aku hanya bias diam membisu. Bingung apa yang harus kukatakan padanya. Tak sadar, kami berdua sudah sampai didepan rumahku.
“Makasih ya udah nganterin,” kataku pura - pura ceria.
“Sama – sama. Aku mohon pikirkanlah perkataanku tadi baik – baik.”
“Ya. Tenang saja. Kalo udah pasti, nanti aku kabarin dech.”
Seulas senyum terlihat dengan jelas diwajah Rahlan, “Oke. Sampe besok.”
Aku segera berlari menuju kamarku yang berada dilantai atas. Lalu, aku menghempaska tubuhku kekasur. Aku masih bingung dengan kejadian tadi, rasanya seperti mimpi saja Rahlan berkata seperti itu padaku. Memang sudah lama aku menyukai dia. Tapi, aku tidak bias mengunggkapkannya dengan baik. Setiap kali ada kesempatan untukku, aku selalu menyia – nyiakannya. Aku ini memang gadis yang sangat bodoh.
Mungkin Tuhan masih memberiku kesempatan. Kali ini aku tidak akan menyia – nyiakannya lagi. Kuambil Hp-ku, dan mulai mengetik sesuatu untukku kirim ke Rahlan.
Sudah satu bulan aku pacaran dengan Rahlan. Aku masih merasa seperti dialam mimpi saja. Dan dia selalu baik kepadaku. Aku sangat senang bersama dengannya. Aku terus berharap, agar aku terus bisa bersama dengan Rahlan.
Tapi, sepertinya Tuhan berkata lain. Sekitar dua hari yang lalu, aku mendengar berita yang menghebohkan kalau Rahlan selingkuh dariku. Saat aku mencoba mencari tahu, ternyata memang benar dia bersama cewek lain. Dan yang paling membuatku terkejut adalah cewek itu Sari, sahabatku sendiri. Selama satu minggu aku tak masuk sekolah, karena masih syok dengan kejadian itu.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku pada diriku sendiri. “Apakah aku harus memutuskan hubunganku dengan Rahlan? Tapi, aku tak ingin. Aku masih sayang dengan Rahlan. Aku tak ingin berpisah darinya.”
Pikiranku sangat kacau. Aku ingin menumpahkan semua kekesalanku pada kisahku kali ini. Aku membuka komputerku dan mulai menulis. Semua yang kurasakan, semua yang kualami akan kutumpahkan semua kedalam cerpenku ini.
Saat tengah menulis cerpen, aku mengambil Hp-ku dan mulai mengetik ke Rahlan.
Rahlan, mungkin waktu kita untuk bersama memang sangat singkat. Aku sangat senang saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Hari – hari yang kita lalui sangatlah indah. Tapi, sepertinya Tuhan berkata lain tentang hubungan kita. Aku minta maaf padamu jika aku memiliki kesalahan. Aku memang masih ingin bersamamu, tapi ternyata tak bisa. Sepertinya aku memang tidak bisa mendampingimu .Terima kasih banyak.
Air mata membasahi pipiku dengan derasnya. Air mata ini sudah tak bisa ditampung lagi. Biarlah aku berpisah darimu. Walau ini menyakitkan bagiku, tapi aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu selama ini. Terima kasih, Rahlan. Terima kasih sudah mau membalas perasaanku walau hanya sesaat.
Aku menunggu Rahlan melanjutkan omongannya.
“Kalo gue… suka ama loe?”
Jantungku terasa ingin copot. Aku sama sekali tak menyangka kalo Rahlan akan berkata seperti itu.
“Sebaiknya, loe piker – piker dulu,” kata Rahlan.
“Baiklah.”
Rahlan mengenggam tanganku dengan erat dan berkata , “ayo aku antar kau pulang.” Aku hanya mengikuti langkah Rahlan dari belakang. Hari sudah sore, udara mulai dingin karena sekarang sudah masuk musim hujan. Sejak Rahlan berbicara mengenai perasaannya, aku hanya bias diam membisu. Bingung apa yang harus kukatakan padanya. Tak sadar, kami berdua sudah sampai didepan rumahku.
“Makasih ya udah nganterin,” kataku pura - pura ceria.
“Sama – sama. Aku mohon pikirkanlah perkataanku tadi baik – baik.”
“Ya. Tenang saja. Kalo udah pasti, nanti aku kabarin dech.”
Seulas senyum terlihat dengan jelas diwajah Rahlan, “Oke. Sampe besok.”
Aku segera berlari menuju kamarku yang berada dilantai atas. Lalu, aku menghempaska tubuhku kekasur. Aku masih bingung dengan kejadian tadi, rasanya seperti mimpi saja Rahlan berkata seperti itu padaku. Memang sudah lama aku menyukai dia. Tapi, aku tidak bias mengunggkapkannya dengan baik. Setiap kali ada kesempatan untukku, aku selalu menyia – nyiakannya. Aku ini memang gadis yang sangat bodoh.
Mungkin Tuhan masih memberiku kesempatan. Kali ini aku tidak akan menyia – nyiakannya lagi. Kuambil Hp-ku, dan mulai mengetik sesuatu untukku kirim ke Rahlan.
Sudah satu bulan aku pacaran dengan Rahlan. Aku masih merasa seperti dialam mimpi saja. Dan dia selalu baik kepadaku. Aku sangat senang bersama dengannya. Aku terus berharap, agar aku terus bisa bersama dengan Rahlan.
Tapi, sepertinya Tuhan berkata lain. Sekitar dua hari yang lalu, aku mendengar berita yang menghebohkan kalau Rahlan selingkuh dariku. Saat aku mencoba mencari tahu, ternyata memang benar dia bersama cewek lain. Dan yang paling membuatku terkejut adalah cewek itu Sari, sahabatku sendiri. Selama satu minggu aku tak masuk sekolah, karena masih syok dengan kejadian itu.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku pada diriku sendiri. “Apakah aku harus memutuskan hubunganku dengan Rahlan? Tapi, aku tak ingin. Aku masih sayang dengan Rahlan. Aku tak ingin berpisah darinya.”
Pikiranku sangat kacau. Aku ingin menumpahkan semua kekesalanku pada kisahku kali ini. Aku membuka komputerku dan mulai menulis. Semua yang kurasakan, semua yang kualami akan kutumpahkan semua kedalam cerpenku ini.
Saat tengah menulis cerpen, aku mengambil Hp-ku dan mulai mengetik ke Rahlan.
Rahlan, mungkin waktu kita untuk bersama memang sangat singkat. Aku sangat senang saat kau menyatakan perasaanmu padaku. Hari – hari yang kita lalui sangatlah indah. Tapi, sepertinya Tuhan berkata lain tentang hubungan kita. Aku minta maaf padamu jika aku memiliki kesalahan. Aku memang masih ingin bersamamu, tapi ternyata tak bisa. Sepertinya aku memang tidak bisa mendampingimu .Terima kasih banyak.
Air mata membasahi pipiku dengan derasnya. Air mata ini sudah tak bisa ditampung lagi. Biarlah aku berpisah darimu. Walau ini menyakitkan bagiku, tapi aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu selama ini. Terima kasih, Rahlan. Terima kasih sudah mau membalas perasaanku walau hanya sesaat.
Cinta yang Salah (part 1)
Apa jadinya jika orang yang kau sayangi mengkhianatimu? Marah? Benci? Dendam? Tak ada satu pun orang yang bisa dipercayai dengan sepenuhnya. Sebesar apapun kita mempercayainya, akhir akan mengkhianati kita juga. Tak ada orang yang sempurna didunia ini...
“Lisa, met pagi,” sapa Sari.
“Met pagi,” balasku.
“Tumben nich sendirian? Nggak bareng ama Rahlan?”
Aku terkejut mendengar nama Rahlan. Wajahku pun merah bagaikan udang rebus. “A… apaan sich?”
“Sebetulnya loe suka kan ama dia?” Tanya Sari.
“Mungkin,” kataku datar.
“Kok mungkin sich? Kenapa nggak loe tembak aja dia? Gue pikir dia juga sama loe.”
“Nggak mungkinlah, Sar. Gue nggak ingin melakukan hal macam itu. Gue dan Rahlan hanya temenan.”
“Beneran?”
“Yup. Sangat.”
Yach, beginilah keadaanku tiap pagi. Pasti ada saja Sari yang mengoceh tentang Rahlan. Rahlan adalah teman baikku. Orangnya sangat baik. Dan mungkin juga, aku menyukai dia. Tapi sejak aku pisah kelas dengan dia, aku jarang sekali bertemu dengannya. Bahkan bicara saja tidak pernah.
Bel masuk berbunyi dengan nyaring. Guru pun segera masuk untuk mengajarkan sesuatu yang baru. Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Indonesia dan aku sangat menyukai pelajaran itu. Kalau mendengarkan dengan seksama, ada saja yang terlintas dipikiranku tentang apa yang akan aku tulis. Walaupun aku hanya murid biasa, aku punya hobi yang mungkin jarang sekali ada diantar remaja yang lainnya. Hobiku itu menulis.
Akhirnya bel pulang berbunyi. Aku segera membereskan barang – barangku.
“Hei Lisa,” panggil salah satu temanku. “Ada yang manggil nich.”
“Ya.” Aku segera menghampiri siapa yang memanggilku. Dan ternyata itu adalah Rahlan.
“Tumben – tumbenan nich,” kataku.
“Ayo pulang. Kamu selalu lama ya kalo melakukan sesuatu.”
“Kamu nungguin aku?”
Rahlan hanya diam saja dan mengangguk pelan.
“Oke. Ayo pulang.”
Sudah lama sekali aku tak pulang bareng dengan Rahlan. Rumah kami berdua memang tak jauh dari sekolah. Jadi, hanya perlu jalan kaki selama 10 menit saja. Selama perjalanan, kami terus saja tertawa. Kalo bersama Rahlan apapun menjadi menyenangkan. Tiba – tiba saja, Rahlan menghentikan langkahnya.
“Ada apa?”
“Lisa, apa ada orang yang loe suka saat ini?” Tanya Rahlan.
“Kenapa loe tanyakan hal itu?”
“Apakah gue belum terlambat kalo ngomong hal ini?”
“Ngomong paan?”
“Kalo… gue…”
“Lisa, met pagi,” sapa Sari.
“Met pagi,” balasku.
“Tumben nich sendirian? Nggak bareng ama Rahlan?”
Aku terkejut mendengar nama Rahlan. Wajahku pun merah bagaikan udang rebus. “A… apaan sich?”
“Sebetulnya loe suka kan ama dia?” Tanya Sari.
“Mungkin,” kataku datar.
“Kok mungkin sich? Kenapa nggak loe tembak aja dia? Gue pikir dia juga sama loe.”
“Nggak mungkinlah, Sar. Gue nggak ingin melakukan hal macam itu. Gue dan Rahlan hanya temenan.”
“Beneran?”
“Yup. Sangat.”
Yach, beginilah keadaanku tiap pagi. Pasti ada saja Sari yang mengoceh tentang Rahlan. Rahlan adalah teman baikku. Orangnya sangat baik. Dan mungkin juga, aku menyukai dia. Tapi sejak aku pisah kelas dengan dia, aku jarang sekali bertemu dengannya. Bahkan bicara saja tidak pernah.
Bel masuk berbunyi dengan nyaring. Guru pun segera masuk untuk mengajarkan sesuatu yang baru. Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Indonesia dan aku sangat menyukai pelajaran itu. Kalau mendengarkan dengan seksama, ada saja yang terlintas dipikiranku tentang apa yang akan aku tulis. Walaupun aku hanya murid biasa, aku punya hobi yang mungkin jarang sekali ada diantar remaja yang lainnya. Hobiku itu menulis.
Akhirnya bel pulang berbunyi. Aku segera membereskan barang – barangku.
“Hei Lisa,” panggil salah satu temanku. “Ada yang manggil nich.”
“Ya.” Aku segera menghampiri siapa yang memanggilku. Dan ternyata itu adalah Rahlan.
“Tumben – tumbenan nich,” kataku.
“Ayo pulang. Kamu selalu lama ya kalo melakukan sesuatu.”
“Kamu nungguin aku?”
Rahlan hanya diam saja dan mengangguk pelan.
“Oke. Ayo pulang.”
Sudah lama sekali aku tak pulang bareng dengan Rahlan. Rumah kami berdua memang tak jauh dari sekolah. Jadi, hanya perlu jalan kaki selama 10 menit saja. Selama perjalanan, kami terus saja tertawa. Kalo bersama Rahlan apapun menjadi menyenangkan. Tiba – tiba saja, Rahlan menghentikan langkahnya.
“Ada apa?”
“Lisa, apa ada orang yang loe suka saat ini?” Tanya Rahlan.
“Kenapa loe tanyakan hal itu?”
“Apakah gue belum terlambat kalo ngomong hal ini?”
“Ngomong paan?”
“Kalo… gue…”
I Will Always Wait You
Ketika aku pertama kali melihatmu, hatiku berdebar tak karuan. Wajah manismu membuatku terpesona olehnya. Aku mengenalmu lewat salah satu temanku. Ketika aku mulai mengenalkan diriku padamu, rasanya seperti mimpi. Aku terus berusaha untuk lebih mengenalmu, sebagai seorang "teman." Entah kapan aku jadi akrab denganmu. Tertawa, bercanda bersama. Mengenalmu seperti kau mengenalku. Perasaanku terus bergejolak setiap kalo berada didekatmu. Pernah aku bertanya padamu, "apakah ada orang yang kau sayangi?" Kuberpikir, betapa bodohnya mulutku mengatakan hal seperti itu. Saat kau mengatakan, "ya," hatiku becampur aduk. Antara senang dan sedih. Sejak saat itu, aku selalu memikirkan, siapa yang kau sayangi? Petanyaan itu terus memenuhi otakku hingga membuatku menjadi seperti orang gila. Apakah ini yang dikatakan "cinta?" Apa mungkin aku "mencintainya?" Awal, aku memang menyukainya. Tetapi, setelah mengenalmu, perasaan sukaku pun menghilang. Apakah mungkin?
Karena sering berpikiran seperti itu, aku mulai menjauhimu. Aku takut, kehadiranku mengganggumu. Menjadi dingin dan tak seramah seperti dulu. Hatiku terasa seperti diiris. Hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Melihat punggungmu. Mendengar suaramu dari jauh. Hatiku sakit, sakit, dan semakin sakit. Aku tak sanggup untuk melihatmu lagi. Hatiku dipenuhi rasa "cemburu." Tapi, kenapa aku bisa cemburu? Apa yang membuatku cemburu?
Terus dan terus aku menjauhimu hingga waktunya tiba. Sudah waktumu untuk berangkat dan pergi dari sisiku. Sempat dia berbicara padaku untuk memastikan datang keacara perpisahan dengannya. Aku hanya diam dan sibuk dengan pemikiranku sendiri. Sampai harinya, aku tetap takut untuk menemuimu. Aku ingin menemuimu. Tapi, kakiku tak bisa diajak berjalan. Tak bisa diajak untuk pergi menemui dirimu. Sampai akhirnya, aku mendapatkan satu pesan darimu. "Sudah waktunya aku berangkat. Sayang sekali kau tak ada." Hanya dua kalimat yang kau ucapkan padaku. Dua kalimat itu membuatku menangis seharian. Dua kalimat yang merobek isi hatiku sampai habis. Dua kalimat yang mungkin tak akan sanggup untuk bertemu denganmu lagi.
Sampai jumpa. Sampai jumpa. Aku tak akan pernah melupakanmu meskipun bertahun - tahun lamanya. Aku tak akan pernah melupankan perasaanku padamu. Walaupun kau sudah tidak mengenalku, aku akan tetap mengenalmu. Dari kejauhan dan melihat punggunmu lagi.
Karena sering berpikiran seperti itu, aku mulai menjauhimu. Aku takut, kehadiranku mengganggumu. Menjadi dingin dan tak seramah seperti dulu. Hatiku terasa seperti diiris. Hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Melihat punggungmu. Mendengar suaramu dari jauh. Hatiku sakit, sakit, dan semakin sakit. Aku tak sanggup untuk melihatmu lagi. Hatiku dipenuhi rasa "cemburu." Tapi, kenapa aku bisa cemburu? Apa yang membuatku cemburu?
Terus dan terus aku menjauhimu hingga waktunya tiba. Sudah waktumu untuk berangkat dan pergi dari sisiku. Sempat dia berbicara padaku untuk memastikan datang keacara perpisahan dengannya. Aku hanya diam dan sibuk dengan pemikiranku sendiri. Sampai harinya, aku tetap takut untuk menemuimu. Aku ingin menemuimu. Tapi, kakiku tak bisa diajak berjalan. Tak bisa diajak untuk pergi menemui dirimu. Sampai akhirnya, aku mendapatkan satu pesan darimu. "Sudah waktunya aku berangkat. Sayang sekali kau tak ada." Hanya dua kalimat yang kau ucapkan padaku. Dua kalimat itu membuatku menangis seharian. Dua kalimat yang merobek isi hatiku sampai habis. Dua kalimat yang mungkin tak akan sanggup untuk bertemu denganmu lagi.
Sampai jumpa. Sampai jumpa. Aku tak akan pernah melupakanmu meskipun bertahun - tahun lamanya. Aku tak akan pernah melupankan perasaanku padamu. Walaupun kau sudah tidak mengenalku, aku akan tetap mengenalmu. Dari kejauhan dan melihat punggunmu lagi.
Bolehkah Aku Tetap Menyukaimu?
Lama aku sudah tak bertemu denganmu.
Wajah dan senyummu pun hampir tak bisa kuinggat dengan jelas.
Walaupun begitu, aku masih boleh menyukaimukan?
Perasaanku dari dulu selalu sama.
Tak pernah berubah sedikit pun.
Aku ingin kau kembali.
Perlihatkanlah lagi senyumanmu yang manis itu.
Datanglah kedalam kehidupanku lagi.
Seperti kita pertama berjumpa.
Walaupun kita jauh, aku ingin kau tetap merasakan perasaanku.
Aku tahu, mungkin aku sudah terlambat.
Walaupun terlambat, aku ingin tetap kau mengetahui perasaanku yang tak pernah berubah.
Maafkanlah jika sikapku ini sangat egois.
Kumohon, hadirlah kembali.
Aku sangat merindukan senyumanmu, tawamu, dan juga kebaikanmu.
Aku sangat menderita tak ada dirimu disampingku.
Kumohon, kembalilah.
Cepat kembali.
Aku tak peduli walau aku harus mati.
Aku hanya ingin bertemu denganmu.
Melihat senyummu untuk terakhir kalinya.
Mengungkapkan perasaanku padamu.
Dan merasakan manis dan pahitnya cinta untuk terakhir kalinya.
Wajah dan senyummu pun hampir tak bisa kuinggat dengan jelas.
Walaupun begitu, aku masih boleh menyukaimukan?
Perasaanku dari dulu selalu sama.
Tak pernah berubah sedikit pun.
Aku ingin kau kembali.
Perlihatkanlah lagi senyumanmu yang manis itu.
Datanglah kedalam kehidupanku lagi.
Seperti kita pertama berjumpa.
Walaupun kita jauh, aku ingin kau tetap merasakan perasaanku.
Aku tahu, mungkin aku sudah terlambat.
Walaupun terlambat, aku ingin tetap kau mengetahui perasaanku yang tak pernah berubah.
Maafkanlah jika sikapku ini sangat egois.
Kumohon, hadirlah kembali.
Aku sangat merindukan senyumanmu, tawamu, dan juga kebaikanmu.
Aku sangat menderita tak ada dirimu disampingku.
Kumohon, kembalilah.
Cepat kembali.
Aku tak peduli walau aku harus mati.
Aku hanya ingin bertemu denganmu.
Melihat senyummu untuk terakhir kalinya.
Mengungkapkan perasaanku padamu.
Dan merasakan manis dan pahitnya cinta untuk terakhir kalinya.
Rabu, 13 Juli 2011
Pertemuan Sekali dalam Seumur Hidup (part 5)
Sejak kejadian itu, aku tak pernah bicara lagi dengan Haru. Begitu juga dengan Haru. Sebenarnya ada sedikit perasaan bersalah didalam hatiku, hanya saja aku takut minta maaf pada Haru. Terlebih aku mendengar kalau Haru sudah berpacaran dengan Himawari. Aku benar – benar menjauh dari Haru.
Jam pulang telah berbunyi, aku berniat ketempat itu. Tempat aku dan Haru bernyanyi bersama, bercanda bersama. Rasanya semua itu seperti mimpi aku bisa berbicara dengan orang lain. Air mata kembali membasahi wajahku. Sekarang semuanya hanyalah masa lalu. Dan masa lalu tak bisa diubah. Aku membuka situs Otaku Zone dan mulai menulis.
“Dear Otaku Zone, rasanya sepi sekali tanpa kehadiran Haru. Aku ingin kembali bercanda dengan Haru. Aku ingin meminta maaf padanya, namun hatiku tak kuat menahan rasa sakit ini. Menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku harus terus berdiam seperti ini terus? Ternyata aku memang tak bisa berteman dengan yang lain.”
Aku berhenti menulis. Hatiku sangat sakit. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung. Tak lama ada yang mengomentari blogku.
“Wah… aku mengerti perasaanmu. Aku juga pernah begitu dengan sahabatku. Tapi, kau harus tetap semangat!”
Aku tersenyum melihat komentar itu. Beberapa menit kemudian ada yang mengontari lagi.
“Tetap semangat, jangan putus asa. Pasti akan ada kesempatan!”
Aku pun membalas komentar itu, “terima kasih semuanya. Aku sangat senang.”
Setelah membalas komentar, kuputuskan untuk pulang. Dipintu terselip selembar kertas. Aku mengambilnya dan segera membacanya.
‘Nanti malam aku ingin berbicara hal penting. Kutunggu ditempat rahasia kita.’
Aku tau betul siapa yang menulis surat ini. Apa yang mau ia bicarakan?
Malam pun tiba. Hari ini adalah bulan purnama, jadi jalan sedikit terlihat walaupun gelap. Aku segera pergi ketempat itu. Aku pergi diam – diam, takut kalau ketahuan dengan penjaga asrama. Saat aku sampai disana, tak ada siapa – siapa. Sepi sekali.
Tak lama kemudian, Haru datang dengan nafas yang terengah – engah.
“Maaf ya, aku telat.”
“Tidak apa. Ada apa kau memanggilku?!” kataku ketus.
“Kau masih marah padaku?”
Aku hanya diam membelakangi Haru.
“Maafkan aku, jika aku punya salah padamu,” kata Haru pelan.
“Kau tak perlu minta maaf. Justru akulah yang pantas minta maaf.”
“Eh…”
“Maafkan aku karena menghindarimu.”
“Tidak apa – apa.”
Kami terdiam beberapa saat. Angin malam yang dingin menusuk tubuhku hingga aku merasa dingin. Tiba – tiba saja Haru memberikan jaketnya padaku, “Pakailah.”
“Tapi…”
“Tidak apa – apa. Aku tidak kedinginan kok.”
“Lalu… apa yang mau kau bicarakan?”
“Ng… sebenarnya aku ingin mengakui ini sejak kita bertemu…”
“Apa?”
“Aku… aku suka padamu…”
“Ekh!!”
“Iya. Aku sudah lama menyukaimu. Sejak aku kenal denganmu setahun lalu, aku sama sekali tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku datang kesekolah ini pun karena ingin bertemu denganmu,” cerita Haru.
“Tunggu dulu. Setahun lalu? Apakah kita pernah bertemu?”
“Kau tau situs Otaku Zone?” Tanya Haru.
“Tau. Kenapa?”
“Aku mengenalmu lewat situ situ. Aku selalu membaca blogmu. Saat pertama kita bertemu disini pun, sebenarnya aku sudah tau tempat ini. Kau selalu menceritakan hari – harimu diblogmu. Aku selalu membacanya. Sejak itulah aku berniat mencarimu dan ingin mengungkapkan perasaanku padamu.”
“Tunggu dulu. Kalau kau punya Otaku Zone, apakah namamu itu “Haru230”?” tanyaku.
“Iya. Kau mungkin tak sadar akan hal itu. Aku juga tak pernah memasukkan fotoku kedalam sana. Jadi, kau tak pernah melihatmu. Waktu kita bertemu itu, aku tak menyangka akan bertemu denganmu. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu Dia-chan.”
Aku hanya bisa tersipu malu. Wajahku sangat panas hingga angina malam yang dingin ini sama sekali tak bisa kurasakan. Haru mengambil sesuatu dari saku bajunya dan memberikannya padaku.
“Apa ini?”
“Ini untukmu,” kata Haru dengan wajah merah. “bukalah.”
Aku membuka kotak yang diberikan oleh Haru. Aku sangat terkejut melihatnya. Didalamnya terdapat dua cincin yang berpasangan.
“Aku memberikan ini padamu karena aku menyukaimu…”
Aku diam menunggu Haru berbicara.
“Maukah kamu menerimaku, Dia-chan?”
Entah apa yang mendorongku, tiba – tiba saja aku memeluk Haru dengan eratnya, seolah tak ingin melepaskan Haru lagi.
“Di… Dia-chan…”
“Tentu. Aku juga sudah lama sekali menyukaimu, Haru.”
“Benarkah?”
Aku menganggukan kepalaku dengan mantap. Kemudian aku melepaskan pelukanku dari Haru. Haru mengambil satu cincin itu dan memasangnya dijari manisku. Begitu juga denganku. Rasanya seperti upacara pernikahan dibawah sinar bulan purnama yang sangat indah. Tiba – tiba saja, wajah Haru mendekat dan semakin mendekat. Tanpa terasa bibir kami berdua bertemu. Ya ampun… ciuman pertamaku.
“Selain itu Dia-chan, aku ingin memberitahumu.”
“Apa itu?”
“Maafkan aku. Besok pagi aku sudah harus kembali bersama orang tuaku,” sesal Haru.
Ribuan jarum seolah menusukku. Aku sangat terkejut mendengar hal itu. Tapi, aku tetap berusaha untuk tersenyum didepan Haru.
Keesokkan harinya, aku mengantar Haru sampai ke bandara. Sebelum berangkat, Haru mengajakku ke lantai paling atas, dimana kita bisa melihat semua pesawat.
“Aku benar – benar minta maaf, Dia-chan.”
“Sudahlah Haru. Kau tak perlu minta maaf.”
“Tapi, kau adalah pacarku. Dan aku malah seenaknya pergi.”
“Tidak apa – apa. Walaupun kau jauh, perasaanku akan tetap sama,” hiburku.
Haru mencium keningku dengan lembut. Rasanya sangat hangat dan lembut. Aku hanya bisa menahan air mataku, namun rasanya sulit bagiku. Air mata itu tetap keluar. Tangan Haru yang lembut menyeka air mataku dan menciumku.
Panggilan pesawat terdengar sangat nyaring. Haru berpamitan padaku. Aku masih berdiri sambil melihat pesawar Haru yang sudah terbang. Kali ini air mataku tak bisa dihentikan lagi.
“Selamat tinggal Haru. Aku akan terus menunggumu walaupun harus bertahun – tahun lamanya.”
Jam pulang telah berbunyi, aku berniat ketempat itu. Tempat aku dan Haru bernyanyi bersama, bercanda bersama. Rasanya semua itu seperti mimpi aku bisa berbicara dengan orang lain. Air mata kembali membasahi wajahku. Sekarang semuanya hanyalah masa lalu. Dan masa lalu tak bisa diubah. Aku membuka situs Otaku Zone dan mulai menulis.
“Dear Otaku Zone, rasanya sepi sekali tanpa kehadiran Haru. Aku ingin kembali bercanda dengan Haru. Aku ingin meminta maaf padanya, namun hatiku tak kuat menahan rasa sakit ini. Menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku harus terus berdiam seperti ini terus? Ternyata aku memang tak bisa berteman dengan yang lain.”
Aku berhenti menulis. Hatiku sangat sakit. Aku tak tau harus berbuat apa. Aku bingung. Tak lama ada yang mengomentari blogku.
“Wah… aku mengerti perasaanmu. Aku juga pernah begitu dengan sahabatku. Tapi, kau harus tetap semangat!”
Aku tersenyum melihat komentar itu. Beberapa menit kemudian ada yang mengontari lagi.
“Tetap semangat, jangan putus asa. Pasti akan ada kesempatan!”
Aku pun membalas komentar itu, “terima kasih semuanya. Aku sangat senang.”
Setelah membalas komentar, kuputuskan untuk pulang. Dipintu terselip selembar kertas. Aku mengambilnya dan segera membacanya.
‘Nanti malam aku ingin berbicara hal penting. Kutunggu ditempat rahasia kita.’
Aku tau betul siapa yang menulis surat ini. Apa yang mau ia bicarakan?
Malam pun tiba. Hari ini adalah bulan purnama, jadi jalan sedikit terlihat walaupun gelap. Aku segera pergi ketempat itu. Aku pergi diam – diam, takut kalau ketahuan dengan penjaga asrama. Saat aku sampai disana, tak ada siapa – siapa. Sepi sekali.
Tak lama kemudian, Haru datang dengan nafas yang terengah – engah.
“Maaf ya, aku telat.”
“Tidak apa. Ada apa kau memanggilku?!” kataku ketus.
“Kau masih marah padaku?”
Aku hanya diam membelakangi Haru.
“Maafkan aku, jika aku punya salah padamu,” kata Haru pelan.
“Kau tak perlu minta maaf. Justru akulah yang pantas minta maaf.”
“Eh…”
“Maafkan aku karena menghindarimu.”
“Tidak apa – apa.”
Kami terdiam beberapa saat. Angin malam yang dingin menusuk tubuhku hingga aku merasa dingin. Tiba – tiba saja Haru memberikan jaketnya padaku, “Pakailah.”
“Tapi…”
“Tidak apa – apa. Aku tidak kedinginan kok.”
“Lalu… apa yang mau kau bicarakan?”
“Ng… sebenarnya aku ingin mengakui ini sejak kita bertemu…”
“Apa?”
“Aku… aku suka padamu…”
“Ekh!!”
“Iya. Aku sudah lama menyukaimu. Sejak aku kenal denganmu setahun lalu, aku sama sekali tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku datang kesekolah ini pun karena ingin bertemu denganmu,” cerita Haru.
“Tunggu dulu. Setahun lalu? Apakah kita pernah bertemu?”
“Kau tau situs Otaku Zone?” Tanya Haru.
“Tau. Kenapa?”
“Aku mengenalmu lewat situ situ. Aku selalu membaca blogmu. Saat pertama kita bertemu disini pun, sebenarnya aku sudah tau tempat ini. Kau selalu menceritakan hari – harimu diblogmu. Aku selalu membacanya. Sejak itulah aku berniat mencarimu dan ingin mengungkapkan perasaanku padamu.”
“Tunggu dulu. Kalau kau punya Otaku Zone, apakah namamu itu “Haru230”?” tanyaku.
“Iya. Kau mungkin tak sadar akan hal itu. Aku juga tak pernah memasukkan fotoku kedalam sana. Jadi, kau tak pernah melihatmu. Waktu kita bertemu itu, aku tak menyangka akan bertemu denganmu. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu Dia-chan.”
Aku hanya bisa tersipu malu. Wajahku sangat panas hingga angina malam yang dingin ini sama sekali tak bisa kurasakan. Haru mengambil sesuatu dari saku bajunya dan memberikannya padaku.
“Apa ini?”
“Ini untukmu,” kata Haru dengan wajah merah. “bukalah.”
Aku membuka kotak yang diberikan oleh Haru. Aku sangat terkejut melihatnya. Didalamnya terdapat dua cincin yang berpasangan.
“Aku memberikan ini padamu karena aku menyukaimu…”
Aku diam menunggu Haru berbicara.
“Maukah kamu menerimaku, Dia-chan?”
Entah apa yang mendorongku, tiba – tiba saja aku memeluk Haru dengan eratnya, seolah tak ingin melepaskan Haru lagi.
“Di… Dia-chan…”
“Tentu. Aku juga sudah lama sekali menyukaimu, Haru.”
“Benarkah?”
Aku menganggukan kepalaku dengan mantap. Kemudian aku melepaskan pelukanku dari Haru. Haru mengambil satu cincin itu dan memasangnya dijari manisku. Begitu juga denganku. Rasanya seperti upacara pernikahan dibawah sinar bulan purnama yang sangat indah. Tiba – tiba saja, wajah Haru mendekat dan semakin mendekat. Tanpa terasa bibir kami berdua bertemu. Ya ampun… ciuman pertamaku.
“Selain itu Dia-chan, aku ingin memberitahumu.”
“Apa itu?”
“Maafkan aku. Besok pagi aku sudah harus kembali bersama orang tuaku,” sesal Haru.
Ribuan jarum seolah menusukku. Aku sangat terkejut mendengar hal itu. Tapi, aku tetap berusaha untuk tersenyum didepan Haru.
Keesokkan harinya, aku mengantar Haru sampai ke bandara. Sebelum berangkat, Haru mengajakku ke lantai paling atas, dimana kita bisa melihat semua pesawat.
“Aku benar – benar minta maaf, Dia-chan.”
“Sudahlah Haru. Kau tak perlu minta maaf.”
“Tapi, kau adalah pacarku. Dan aku malah seenaknya pergi.”
“Tidak apa – apa. Walaupun kau jauh, perasaanku akan tetap sama,” hiburku.
Haru mencium keningku dengan lembut. Rasanya sangat hangat dan lembut. Aku hanya bisa menahan air mataku, namun rasanya sulit bagiku. Air mata itu tetap keluar. Tangan Haru yang lembut menyeka air mataku dan menciumku.
Panggilan pesawat terdengar sangat nyaring. Haru berpamitan padaku. Aku masih berdiri sambil melihat pesawar Haru yang sudah terbang. Kali ini air mataku tak bisa dihentikan lagi.
“Selamat tinggal Haru. Aku akan terus menunggumu walaupun harus bertahun – tahun lamanya.”
Pertemuan Sekali dalam Seumur Hidup (part 4)
Pagi harinya, aku pun berangkat kesekolah pun dengan perasaan senang yang meluap – luap. Rasanya aku masih bermimpi akan kejadian kemarin. Saat aku masuk kekelas, Aoi bilang aku dipanggil oleh seseorang. Dia menungguku diatas atap sekolah. Aku jadi penasaran, siapa itu?
Aku pun segera pergi keatas atap. Dan ternyata yang menungguku adalah Himawari, anak yang paling popular disekolah.
“Ada apa?” tanyaku.
“Langsung saja. Aku ingin kau menjauh dari Haru.”
“Kenapa?”
“Sudahlah! Kau tak perlu banyak bertanya! Yang penting, aku ingin kau jangan pernah mendekati Haru lagi!”
Setelah berkata seperti itu Himawari segera pergi, meninggalkanku yang masih bingung akan ucapannya.
‘Apa mungkin Himawari menyukai Haru?’ pikirku.
Aku terus berpikir seperti itu sampai Haru datang menemuiku.
“Dia-chan, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Haru.
“Ah… ti… tidak apa – apa,” jawabku terbata – bata.
“Kau yakin?”
“Sangat yakin…”
“Ya sudah. Ayo masuk kelas, pelajaran sudah dimulai,” kata Haru sambil menggandeng tanganku.
Selama pelajaran berlangsung, kata – kata Himawari masih saja terngiang dikepalaku. Kalau benar Himaeari menyukai Haru, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menghindar? Atau tidak memperdulikan perkataan Himawari?
Tak terasa bel pulang telah berbunyi. Kepalaku terasa pusing sekali. Aku ingin segera pulang dan menulis blog. Aku berjalan sendirian dikoridor. Aku serasa kembali kediriku yang lama. Selalu seorang diri, sampai Haru datang kedalam kehidupanku. Air mata mengalir perlahan membasahi pipiku. Aku segera menyekanya.
Dipintu gerbang terlihat Haru, seperti menunggu seseorang. Aku hanya bisa berdiam diri melihatnya. Haru pun menoleh dan menghampiriku.
“Kenapa kau masih disini?” tanyaku.
“Aku menunggumu,” jawab Haru.
“Kau tidak bersama Himawari?”
“Tidak. Sudahlah, ayo kuantak kau kekamarmu.”
“Itu… tidak perlu…”
“Kenapa?”
“Sudahlah! Aku bukan anak kecil lagi!” kesalku. Kemudian aku berlari menjauhi Haru. Aku sangat kesal. Sesampainya dikamar, aku menangis sejadi – jadinya. Perasaanku campur aduk antara kesal dan bingung.
Aku pun segera pergi keatas atap. Dan ternyata yang menungguku adalah Himawari, anak yang paling popular disekolah.
“Ada apa?” tanyaku.
“Langsung saja. Aku ingin kau menjauh dari Haru.”
“Kenapa?”
“Sudahlah! Kau tak perlu banyak bertanya! Yang penting, aku ingin kau jangan pernah mendekati Haru lagi!”
Setelah berkata seperti itu Himawari segera pergi, meninggalkanku yang masih bingung akan ucapannya.
‘Apa mungkin Himawari menyukai Haru?’ pikirku.
Aku terus berpikir seperti itu sampai Haru datang menemuiku.
“Dia-chan, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Haru.
“Ah… ti… tidak apa – apa,” jawabku terbata – bata.
“Kau yakin?”
“Sangat yakin…”
“Ya sudah. Ayo masuk kelas, pelajaran sudah dimulai,” kata Haru sambil menggandeng tanganku.
Selama pelajaran berlangsung, kata – kata Himawari masih saja terngiang dikepalaku. Kalau benar Himaeari menyukai Haru, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menghindar? Atau tidak memperdulikan perkataan Himawari?
Tak terasa bel pulang telah berbunyi. Kepalaku terasa pusing sekali. Aku ingin segera pulang dan menulis blog. Aku berjalan sendirian dikoridor. Aku serasa kembali kediriku yang lama. Selalu seorang diri, sampai Haru datang kedalam kehidupanku. Air mata mengalir perlahan membasahi pipiku. Aku segera menyekanya.
Dipintu gerbang terlihat Haru, seperti menunggu seseorang. Aku hanya bisa berdiam diri melihatnya. Haru pun menoleh dan menghampiriku.
“Kenapa kau masih disini?” tanyaku.
“Aku menunggumu,” jawab Haru.
“Kau tidak bersama Himawari?”
“Tidak. Sudahlah, ayo kuantak kau kekamarmu.”
“Itu… tidak perlu…”
“Kenapa?”
“Sudahlah! Aku bukan anak kecil lagi!” kesalku. Kemudian aku berlari menjauhi Haru. Aku sangat kesal. Sesampainya dikamar, aku menangis sejadi – jadinya. Perasaanku campur aduk antara kesal dan bingung.
Pertemuan Sekali dalam Seumur Hidup (part 3)
Sejak pembicaraan ditempat itu. Aku semakin akrab dengan Haru. Bahkan pernah ada gossip bahwa aku dan Haru pacaran, dan itu tak benar. Kami sudah seperti sahabat, bisa menyelesaikan masalah bersama – sama. Terkadang aku merasa aneh saat berada dekat dengan Haru. AKu juga tidak tahu apa itu.
“Hei, Dia-chan!” panggil Haru.
“Apa?”
“Pulang sekolah ada acara?”
“Tidak, kenapa?”
“Tidak apa – apa. Nanti kita ketemu ditempat itu yah.”
“Aku tidak janji ya.”
Akhirnya, pulang sekolah tiba juga. Aku segera pergi ketempat rahasiaku. Dari jauh aku mendengar suara musik yang mengalun lembut. Aku mengenali musik ini dengan sangat jelas. Ya, ini adalah lagu kesukaanku yang berjudul “YOU” karya Ayumi Hamasaki. Aku mencari asal suara itu. Dan ternyata itu adalah Haru yang sedang memainkan biola. Aku benar – benar kagum padanya.
Diam – diam aku memfoto sosok Haru yang sedang bermain biola. Haru sangat keren dalam sosok seperti itu. Aku benar – benar kagum padanya. Hati ini berdebar lebih keras dari biasanya.
“Wah… Dia-chan, cepat juga kau datang.”
“Tentu. Tapi, kau hebat. Tak kusangka kau bisa memainkan biola.”
Haru hanya tersenyum. Senyuman yang sangat aku sukai dari dia.
“Lagu ini aku mainkan untuk Dia-chan,” kata Haru.
“Eh… untukku?”
“Iya. Ini lagu kesukaanmu, kan.”
“Kamu tau dari mana?”
“Itu rahasia.”
“Rahasia terus deh.”
“Biarin.”
“Mainkan lagi donk. Tapi yang lain.”
“Bagaimana kalau “Again” dari Yui?”
“Boleh.”
Dengan lembutnya, Haru kembali memainkan biola miliknya. Alunan musiknya sangat merdu, membuatku ingin ikut bernyanyi. Tanpa sadar aku pun bernyanyi bersama dengan suara biola Haru.
“Dear Otaku Zone, hari ini aku senang sekali. Entah mengapa hatiku berdebar lebih keras dari biasanya jika aku dekat dengan Haru. Apa mungkin aku menyukainya? Akh… tapi itu tak mungkin. Bagiku, Haru adalah seorang sahabat yang menyenangkan. Hari ini, aku pun bernyanyi diiringi oleh permainan biola Haru. Baru kali ini aku mendengar suara biola. Suaranya terdengar sangat indah.
Kalau mungkin aku menyukai dia, aku takut untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku takut dia sudah memiliki orang yang sudah ia sayangi. Dan persahabatan kami akan retak hanya masalah seperti itu. Aku tidak mau.
Ya sudah, kupikir cukup sekian. Sampai jumpa besok.”
“Hei, Dia-chan!” panggil Haru.
“Apa?”
“Pulang sekolah ada acara?”
“Tidak, kenapa?”
“Tidak apa – apa. Nanti kita ketemu ditempat itu yah.”
“Aku tidak janji ya.”
Akhirnya, pulang sekolah tiba juga. Aku segera pergi ketempat rahasiaku. Dari jauh aku mendengar suara musik yang mengalun lembut. Aku mengenali musik ini dengan sangat jelas. Ya, ini adalah lagu kesukaanku yang berjudul “YOU” karya Ayumi Hamasaki. Aku mencari asal suara itu. Dan ternyata itu adalah Haru yang sedang memainkan biola. Aku benar – benar kagum padanya.
Diam – diam aku memfoto sosok Haru yang sedang bermain biola. Haru sangat keren dalam sosok seperti itu. Aku benar – benar kagum padanya. Hati ini berdebar lebih keras dari biasanya.
“Wah… Dia-chan, cepat juga kau datang.”
“Tentu. Tapi, kau hebat. Tak kusangka kau bisa memainkan biola.”
Haru hanya tersenyum. Senyuman yang sangat aku sukai dari dia.
“Lagu ini aku mainkan untuk Dia-chan,” kata Haru.
“Eh… untukku?”
“Iya. Ini lagu kesukaanmu, kan.”
“Kamu tau dari mana?”
“Itu rahasia.”
“Rahasia terus deh.”
“Biarin.”
“Mainkan lagi donk. Tapi yang lain.”
“Bagaimana kalau “Again” dari Yui?”
“Boleh.”
Dengan lembutnya, Haru kembali memainkan biola miliknya. Alunan musiknya sangat merdu, membuatku ingin ikut bernyanyi. Tanpa sadar aku pun bernyanyi bersama dengan suara biola Haru.
“Dear Otaku Zone, hari ini aku senang sekali. Entah mengapa hatiku berdebar lebih keras dari biasanya jika aku dekat dengan Haru. Apa mungkin aku menyukainya? Akh… tapi itu tak mungkin. Bagiku, Haru adalah seorang sahabat yang menyenangkan. Hari ini, aku pun bernyanyi diiringi oleh permainan biola Haru. Baru kali ini aku mendengar suara biola. Suaranya terdengar sangat indah.
Kalau mungkin aku menyukai dia, aku takut untuk menyatakan perasaanku padanya. Aku takut dia sudah memiliki orang yang sudah ia sayangi. Dan persahabatan kami akan retak hanya masalah seperti itu. Aku tidak mau.
Ya sudah, kupikir cukup sekian. Sampai jumpa besok.”
Pertemuan Sekali dalam Seumur Hidup (part 2)
Keesokkan harinya, keadaan kelas sangat rebut. Mereka bilang akan ada murid baru dikelask. Aku jadi sedikit penasaran.
“Dia-chan,” panggil Aoi.
“Ada apa?”
“Kau sudah dengar berita hari ini?” Tanya Aoi.
“Maksudmu tentang anak baru itu?”
“Ya. Kamu tahu dari mana?”
“Dari anak – anak yang lain. Aku dengar saat masuk kelas.”
“Oh… aku jadi tak sabar untuk melihatnya,” girang Aoi.
Bel masuk berbunyi, semua murid kembali ketempat mereka masing – masing. Saat wali kelasku masuk, ia bilang akan memperkenalkan murid baru. Aku sangat terkejut. Ternyata anak baru itu adalah anak yang kemarin. Namanya adalah Haru.
Sehabis pulang sekolah, aku biasa menulis tentang hari ini. Maka dari itu karena cuacanya cerah dan angin sedang bagus, aku membawa laptopku dan pergi ketempat “itu”. Tempat yang hanya aku ketahui. Tempat dimana kita bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya.
“Ya ampun, sepertinya hari ini angin memberi service lebih. Anginnya sangat sejuk!” seruku.
Tanpa basa – basi lagi, aku langsung membuka situs Otaku Zone milikku.
“Dear Otaku Zone. Hari ini disekolahku kedatangan murid baru yang bernama Haru. Yang lebih mengejutkannya lagi, dia adalah anak yang kemarin aku temui. Wuah… rasanya sulit kupercaya, tapi ada yang berbeda dari sikapnya itu. Aku juga kurang tau apa itu. Apa mungkin senyumannya atau cara ia berbicara. Yang jelas ada yang berbeda. Selain itu, dari namanya rasanya aku pernah bertemu dengannya. Bukan kemarin, tapi lebih jauh lagi.Apa ya? Aku tak ingat.
Ya sudah, kupikir cukup sekian. Besok aku akan menulis hal yang lebih menarik lagi.”
Selesai menulis blog, aku memotret matahari senja yang berwarna keemasan itu. Kemudian aku memasukkannya ke dalam album milikku. Selain ada halaman untuk menulis blog, kita bisa memasukkan beragam foto. Ada juga permainannya, klub, dan bagian chat.
Tiba – tiba saja terdengar suara langkah seseorang mendekat kemari. Dan saat aku menoleh ternyata itu adalah Haru.
‘Mau apa dia? Kenapa dia bisa tau tempat ini?’ tanyaku dalam hati.
“Indah ya,” kata Haru pelan.
Aku segera menjawabnya, “ya kau benar.”
Haru segera duduk disebelahku, “Kau sering kemari?”
“Lumayan sering.”
“Begitu. Apa yang bagus dari sini?”
“Tentu saja kita bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya. Dan aku sangat suka disini.”
“Oh. Namamu siapa?”
“Aku Diamond. Kamu Haru kan?”
“Ya. Kau tau dari mana?”
“Tentu aku tau, kita teman sekelas, kan.”
“Benarkah? Kenapa aku tidak melihatmu?”
“Aku juga tidak tau. Tapi, yang pasti kita adalah teman sekelas,” kataku.
Sejenak kami berdua berhenti berbicara karena terkagum pada matahari senja yang berwarna keemasan itu. Hanya suara angina saja yang terdengar dengan jelas.
“Haru, apa yang membuatmu pindah kesini?” tanyaku.
“Aku sedang mencari seseorang,” jawabnya.
“Siapa itu? Boleh aku tau?”
“Itu rahasiaku.”
“Ah… pelit.”
“Dia-chan,” panggil Aoi.
“Ada apa?”
“Kau sudah dengar berita hari ini?” Tanya Aoi.
“Maksudmu tentang anak baru itu?”
“Ya. Kamu tahu dari mana?”
“Dari anak – anak yang lain. Aku dengar saat masuk kelas.”
“Oh… aku jadi tak sabar untuk melihatnya,” girang Aoi.
Bel masuk berbunyi, semua murid kembali ketempat mereka masing – masing. Saat wali kelasku masuk, ia bilang akan memperkenalkan murid baru. Aku sangat terkejut. Ternyata anak baru itu adalah anak yang kemarin. Namanya adalah Haru.
Sehabis pulang sekolah, aku biasa menulis tentang hari ini. Maka dari itu karena cuacanya cerah dan angin sedang bagus, aku membawa laptopku dan pergi ketempat “itu”. Tempat yang hanya aku ketahui. Tempat dimana kita bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya.
“Ya ampun, sepertinya hari ini angin memberi service lebih. Anginnya sangat sejuk!” seruku.
Tanpa basa – basi lagi, aku langsung membuka situs Otaku Zone milikku.
“Dear Otaku Zone. Hari ini disekolahku kedatangan murid baru yang bernama Haru. Yang lebih mengejutkannya lagi, dia adalah anak yang kemarin aku temui. Wuah… rasanya sulit kupercaya, tapi ada yang berbeda dari sikapnya itu. Aku juga kurang tau apa itu. Apa mungkin senyumannya atau cara ia berbicara. Yang jelas ada yang berbeda. Selain itu, dari namanya rasanya aku pernah bertemu dengannya. Bukan kemarin, tapi lebih jauh lagi.Apa ya? Aku tak ingat.
Ya sudah, kupikir cukup sekian. Besok aku akan menulis hal yang lebih menarik lagi.”
Selesai menulis blog, aku memotret matahari senja yang berwarna keemasan itu. Kemudian aku memasukkannya ke dalam album milikku. Selain ada halaman untuk menulis blog, kita bisa memasukkan beragam foto. Ada juga permainannya, klub, dan bagian chat.
Tiba – tiba saja terdengar suara langkah seseorang mendekat kemari. Dan saat aku menoleh ternyata itu adalah Haru.
‘Mau apa dia? Kenapa dia bisa tau tempat ini?’ tanyaku dalam hati.
“Indah ya,” kata Haru pelan.
Aku segera menjawabnya, “ya kau benar.”
Haru segera duduk disebelahku, “Kau sering kemari?”
“Lumayan sering.”
“Begitu. Apa yang bagus dari sini?”
“Tentu saja kita bisa melihat matahari terbenam dengan indahnya. Dan aku sangat suka disini.”
“Oh. Namamu siapa?”
“Aku Diamond. Kamu Haru kan?”
“Ya. Kau tau dari mana?”
“Tentu aku tau, kita teman sekelas, kan.”
“Benarkah? Kenapa aku tidak melihatmu?”
“Aku juga tidak tau. Tapi, yang pasti kita adalah teman sekelas,” kataku.
Sejenak kami berdua berhenti berbicara karena terkagum pada matahari senja yang berwarna keemasan itu. Hanya suara angina saja yang terdengar dengan jelas.
“Haru, apa yang membuatmu pindah kesini?” tanyaku.
“Aku sedang mencari seseorang,” jawabnya.
“Siapa itu? Boleh aku tau?”
“Itu rahasiaku.”
“Ah… pelit.”
Pertemuan Sekali dalam Seumur Hidup (part 1)
Angin yang terbang, berhembus didepan mataku. Bergesekan dengan yang disentuhnya dan memainkan musik yang merdu. Perasaan bergejolak memenuhi hatiku. Aku sangat menikmati musik itu…
“Hari ini, aku akan menulis lagi!” seruku.
Aktifitas rutinku setiap hari adalah menulis blog dihalaman bloh dalam situs Otaku Zone. Itu adalah situs untuk para otaku atau pecinta manga dan anime. Aku sangat senang menuli sesuatu di Otaku Zone. Situs ini sudah seperti teman curhatku.
Selain itu, diasrama ini aku sama sekali tidak mempunyai teman yang siap menjadi teman curhatku. Hanya Otaku Zone saja yang kuanggap sebagai teman diasrama ini.
“Dear Otaku Zone, hari ini adalah hari yang paling aneh dalam sejarah hidupku…” kataku dengan semangat berapi – api.
Hari ini aku bertemu dengan anak laki – laki yang baru aku lihat. Kami bertemu secara tak sengaja dikoridor sekolah. Sebetulnya aku yang salah karena aku menabrak dirinya sampai buku yang ia bawa berjatuhan. Aku buru – buru membereskan, minta maaf. Yang lebih anehnya lagi, dia sama sekali tidak berbicara sepatah katapun walaupun aku sudah minta maaf padanya. Dia benar – benar aneh.
“Aku rasa sudah dulu ceritaku hari ini. Besok aku akan menulis hal yang lebih bagus lagi.”
“Hari ini, aku akan menulis lagi!” seruku.
Aktifitas rutinku setiap hari adalah menulis blog dihalaman bloh dalam situs Otaku Zone. Itu adalah situs untuk para otaku atau pecinta manga dan anime. Aku sangat senang menuli sesuatu di Otaku Zone. Situs ini sudah seperti teman curhatku.
Selain itu, diasrama ini aku sama sekali tidak mempunyai teman yang siap menjadi teman curhatku. Hanya Otaku Zone saja yang kuanggap sebagai teman diasrama ini.
“Dear Otaku Zone, hari ini adalah hari yang paling aneh dalam sejarah hidupku…” kataku dengan semangat berapi – api.
Hari ini aku bertemu dengan anak laki – laki yang baru aku lihat. Kami bertemu secara tak sengaja dikoridor sekolah. Sebetulnya aku yang salah karena aku menabrak dirinya sampai buku yang ia bawa berjatuhan. Aku buru – buru membereskan, minta maaf. Yang lebih anehnya lagi, dia sama sekali tidak berbicara sepatah katapun walaupun aku sudah minta maaf padanya. Dia benar – benar aneh.
“Aku rasa sudah dulu ceritaku hari ini. Besok aku akan menulis hal yang lebih bagus lagi.”
Ditinggal Seorang Sahabat (part 4)
Aku terkejut bukan main. Ternyata, yang dimaksud oleh ayah dan ibu adalah Raka. Aku segera minta izin untuk ikut kerumah sakit tempat Raka dirawat. Awalnya, ayah Raka tidak mengijinkan. Tapi, aku berusaha keras membujuknya. Aku ingin melihat Raka.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, tak henti – hentinya aku melantunkan doa untuk Raka. Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Disana, kami bertemu dengan dokter yang merawat Raka. Dokter itu berkata, bahwa kondisi Raka sangat kritis. Saat ini, dia sedang koma.
Aku sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih. Sahabatku sedang tertidur tak berdaya disana. Dengan peralatan medis dimana - mana. Air mataku jatuh dengan derasnya. Sahabatku yang paling kubanggakan kini terbaring lemah disana. Dan sulit bagiku untuk menjangkaunya.
Aku pulang diantar oleh ayah Raka. Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kekamarku dan menangis sejadi – jadinya. Terus menangis tanpa bisa menghentikan air mata ini.
Satu bulan sudah, Raka tertidur dalam keadaan koma. Aku juga tidak boleh menjenguknya, karena selain rumah sakitnya jauh dan juga dilarang oleh orang tua. Beliau bilang, aku harus belajar untuk mempersiapkan ulangan semester. Setiap malam, tak henti – hentinya aku berdoa agar Raka sadar.
Ulangan semester pun telah selesai, dan hari ini ayahku bersedia mengantarkanku kerumah sakit. Sebelum itu, aku membawakan sekeranjang buah untuknya. Aku masuk kedalam kamar Raka, sedangkan ayah hanya menunggu diruang tunggu. Didalam kamar Raka, banyak sekali peralatan medis. Aku sangat berhati – hati melangkah dan duduk disamping ranjang Raka.
“Hei Raka, hari ini aku telah melewati ulangan semester,” kataku. “Kau tau, aku berusaha keras mengerjakan soal – soal eksak. Tapi, tetap saja aku merasa tidak yakin dengan jawabanku sendiri. Dulu, kau sering sekali mengajariku sampai kau marah padaku. Maaf ya, aku benar – benar bodoh dalam pelajaran eksak.
“Aku selalu saja merepotkanmu. Aku jadi ingat, saat kau mengajakku bermain dulu. Kupikir, aku akan sendirian selamanya. Sejak kau datang, aku merasa sangat senang. Kau adalah sahabat terbaikku. Kuharap, kau segera sadar Raka. Jadi, kau bisa bebas memarahiku seperti dulu.”
Aku pergi meninggalkan Raka. Dikoridor jalan, aku melihat ayah Raka dan Tante Sarah yang kelihatannya sedang bertengkar.
“Apa maksudmu jangan pedulikan anak itu?! Raka adalah anak kita!”
“Anak kita?” kata Tante Sarah. “Itu adalah anakmu dengan istrimu yang dulu. Bukan anakku. Aku bahkan tidak melihat anak itu sebagai anakku.”
“Apa?!” kata ayah Raka sambil menampar wajah Tante Sarah.
Aku tidak kuat melihat pemandangan seperti itu. Aku segera berlari ketempat ayah dibawah. Kenapa? Kenapa harus Raka yang mengalami hal seperti ini? Kenapa bukan aku saja yang mengalaminya?
Aku pulang kerumah dengan perasaan bercampur aduk. Aku tidak ingin melihat dan mendengar apa – apa. Aku hanya ingin Raka sadar dan kembali tersenyum padaku. Hanya itu keinginanku.
Keesokkan harinya, cuaca nampak tidak bersahabat. Dicuaca yang mendung ini, aku hanya diam saja menatap jendela dan mengingat masa laluku dengan Raka. Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunanku.
“Runa, ganti bajulah. Kita akan pergi,” kata ibu.
“Pergi kemana?” tanyaku.
“Kita akan menyelawat seseorang.”
Ibu langsung pergi meninggalkanku. Menyelawat seseorang? Perasaanku berdebar tidak karuan. Aku ingin tetap tinggal, tapi hatiku menolak keras. Dengan berat hati, aku bangun dari lamunanku dan mengganti baju.
Diruang tamu, sudah ada beberapa tetangga yang mampir kerumahku untuk berangkat bersama. Kami semua segera berangkat ketempat itu. Aku sangat kaget, saat kami sampai dirumah Raka. Suara lantunan Surah Yasin terdengar dimana – mana. Didalam, aku melihat sosok yang sangat kukenali. Sosok laki – laki yang sudah tak asing lagi bagiku.
Air mataku yang sudah tak tertampung lagi, jatuh dengan derasnya. Aku berusaha memanggil namanya. Terus dan terus. Tapi, usahaku sia – sia. Sekarang Raka sudah berada didunia yang tak terjangkau olehku. Aku tidak bisa percaya dan tidak mau mempercayainya. Sahabat yang paling kubanggakan telah hilang dari dunia ini.
Aku melihat ayah Raka yang menangis tersedu – sedu, tetapi aku tidak melihat Tante Sarah. Aku tidak peduli. Aku keluar dari kerumunan itu. Saat itu juga, tiba – tiba hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Suaraku yang menangis ini tertelan oleh derasnya hujan.
“Raka... Raka... Raka!!!”
Ditengah hujan, aku terus memanggil namanya. Hatiku terasa sangat perih. Sahabat yang paling kubanggakan, sahabat yang paling kupercaya melebih apa pun telah lenyap. Kenanganku dengan Raka luntur bersama turunnya hujan ini. Berkat Raka, hidupku jadi lebih berarti. Berkat Raka, aku jadi tahu artinya teman.
“Raka... Raka!!! Jangan pergi!!”
Selama perjalanan menuju rumah sakit, tak henti – hentinya aku melantunkan doa untuk Raka. Aku sangat khawatir dengan keadaannya. Disana, kami bertemu dengan dokter yang merawat Raka. Dokter itu berkata, bahwa kondisi Raka sangat kritis. Saat ini, dia sedang koma.
Aku sama sekali tidak bisa berpikir dengan jernih. Sahabatku sedang tertidur tak berdaya disana. Dengan peralatan medis dimana - mana. Air mataku jatuh dengan derasnya. Sahabatku yang paling kubanggakan kini terbaring lemah disana. Dan sulit bagiku untuk menjangkaunya.
Aku pulang diantar oleh ayah Raka. Sesampainya dirumah, aku langsung masuk kekamarku dan menangis sejadi – jadinya. Terus menangis tanpa bisa menghentikan air mata ini.
Satu bulan sudah, Raka tertidur dalam keadaan koma. Aku juga tidak boleh menjenguknya, karena selain rumah sakitnya jauh dan juga dilarang oleh orang tua. Beliau bilang, aku harus belajar untuk mempersiapkan ulangan semester. Setiap malam, tak henti – hentinya aku berdoa agar Raka sadar.
Ulangan semester pun telah selesai, dan hari ini ayahku bersedia mengantarkanku kerumah sakit. Sebelum itu, aku membawakan sekeranjang buah untuknya. Aku masuk kedalam kamar Raka, sedangkan ayah hanya menunggu diruang tunggu. Didalam kamar Raka, banyak sekali peralatan medis. Aku sangat berhati – hati melangkah dan duduk disamping ranjang Raka.
“Hei Raka, hari ini aku telah melewati ulangan semester,” kataku. “Kau tau, aku berusaha keras mengerjakan soal – soal eksak. Tapi, tetap saja aku merasa tidak yakin dengan jawabanku sendiri. Dulu, kau sering sekali mengajariku sampai kau marah padaku. Maaf ya, aku benar – benar bodoh dalam pelajaran eksak.
“Aku selalu saja merepotkanmu. Aku jadi ingat, saat kau mengajakku bermain dulu. Kupikir, aku akan sendirian selamanya. Sejak kau datang, aku merasa sangat senang. Kau adalah sahabat terbaikku. Kuharap, kau segera sadar Raka. Jadi, kau bisa bebas memarahiku seperti dulu.”
Aku pergi meninggalkan Raka. Dikoridor jalan, aku melihat ayah Raka dan Tante Sarah yang kelihatannya sedang bertengkar.
“Apa maksudmu jangan pedulikan anak itu?! Raka adalah anak kita!”
“Anak kita?” kata Tante Sarah. “Itu adalah anakmu dengan istrimu yang dulu. Bukan anakku. Aku bahkan tidak melihat anak itu sebagai anakku.”
“Apa?!” kata ayah Raka sambil menampar wajah Tante Sarah.
Aku tidak kuat melihat pemandangan seperti itu. Aku segera berlari ketempat ayah dibawah. Kenapa? Kenapa harus Raka yang mengalami hal seperti ini? Kenapa bukan aku saja yang mengalaminya?
Aku pulang kerumah dengan perasaan bercampur aduk. Aku tidak ingin melihat dan mendengar apa – apa. Aku hanya ingin Raka sadar dan kembali tersenyum padaku. Hanya itu keinginanku.
Keesokkan harinya, cuaca nampak tidak bersahabat. Dicuaca yang mendung ini, aku hanya diam saja menatap jendela dan mengingat masa laluku dengan Raka. Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunanku.
“Runa, ganti bajulah. Kita akan pergi,” kata ibu.
“Pergi kemana?” tanyaku.
“Kita akan menyelawat seseorang.”
Ibu langsung pergi meninggalkanku. Menyelawat seseorang? Perasaanku berdebar tidak karuan. Aku ingin tetap tinggal, tapi hatiku menolak keras. Dengan berat hati, aku bangun dari lamunanku dan mengganti baju.
Diruang tamu, sudah ada beberapa tetangga yang mampir kerumahku untuk berangkat bersama. Kami semua segera berangkat ketempat itu. Aku sangat kaget, saat kami sampai dirumah Raka. Suara lantunan Surah Yasin terdengar dimana – mana. Didalam, aku melihat sosok yang sangat kukenali. Sosok laki – laki yang sudah tak asing lagi bagiku.
Air mataku yang sudah tak tertampung lagi, jatuh dengan derasnya. Aku berusaha memanggil namanya. Terus dan terus. Tapi, usahaku sia – sia. Sekarang Raka sudah berada didunia yang tak terjangkau olehku. Aku tidak bisa percaya dan tidak mau mempercayainya. Sahabat yang paling kubanggakan telah hilang dari dunia ini.
Aku melihat ayah Raka yang menangis tersedu – sedu, tetapi aku tidak melihat Tante Sarah. Aku tidak peduli. Aku keluar dari kerumunan itu. Saat itu juga, tiba – tiba hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Suaraku yang menangis ini tertelan oleh derasnya hujan.
“Raka... Raka... Raka!!!”
Ditengah hujan, aku terus memanggil namanya. Hatiku terasa sangat perih. Sahabat yang paling kubanggakan, sahabat yang paling kupercaya melebih apa pun telah lenyap. Kenanganku dengan Raka luntur bersama turunnya hujan ini. Berkat Raka, hidupku jadi lebih berarti. Berkat Raka, aku jadi tahu artinya teman.
“Raka... Raka!!! Jangan pergi!!”
Ditinggal Seorang Sahabat (part 3)
Esok paginya, aku mencoba menelpon ke handphone Raka. Tapi, tidak diangkat olehnya. “Aneh. Tumben sekali dia tidak menjawab teleponku.”
“Runa, mau sampai kapan kau dikamar? Kau bisa terlambat kesekolah,” panggil ibu dari bawah.
“Ya. Sebentar, Bu.” Aku buru – buru mengirimi SMS untuk Raka dan berangkat kesekolah. Sedari pelajaran pertama, hatiku selalu berdebar tidak karuan. Pikiran buruk berkeliaran dalam pikiran bodohku ini. Aku berusaha berkonsentrasi pada pelajaran karena sebentar lagi Ulangan Semester. Tapi, tetap saja pikiranku masih bersangkut pada Raka.
Pulang sekolah, aku langsung pergi kerumah Raka. Keadaannya sangat sepi seperti biasa. Aku memencet bel rumahnya, tidak ada yang menjawabnya. Keadaan rumah Raka benar – benar kosong. Dengan perasaan kecewa, aku melangkahkan kakiku untuk pulang.
Malam harinya, hujan turun dengan lebatnya. Hawa dingin menyelimuti kamarku dan membuatku malas untuk belajar. Aku berusaha untuk tetap belajar, namun sia – sia. Mataku sama sekali tidak bisa diajak berdiskusi.
Dalam kegelapan malam itu juga, aku melihat sosok didepan rumahku melalui jendela kamar. Sosok yang nyaris tidak kelihatan karena hujan dan gelapnya malam. Tapi, aku bisa sangat yakin akan sosok orang itu. Aku segera turun dan melihatnya.
“Raka!” seruku. “Kenapa kau kesini malam – malam?”
“Runa... aku...”
“Masuklah dulu.”
Aku menyuruhnya masuk dan memberikannya selembar handuk untuk mengeringkan dirinya. Aku juga memberikannya segelas teh hangat. Kebetulan orang tuaku pulang terlambat. Dan dirumah, hanya ada aku dan adikku. Adikku juga sedang bermain dikamarnya.
“Raka, kamu baik – baik saja, kan?” tanyaku.
Raka hanya diam saja. Tubuhnya kelihatan bergetar sekali. Ditengah derasnya hujan, aku mendengar dia menangis. Walaupun ditahan, tapi masih terdengar dengan jelas.
“Raka?”
“Aku... sudah tidak tahu harus berbuat apa supaya ayah sadar,” katanya. “Ternyata Tante Sarah hanyalah memanfaatkan ayah. Kemarin, tidak sengaja aku mendengar Tante Sarah berbicara dengan seseorang ditelepon. Dia mendekati ayah, hanya untuk mencari kekayaan!
“Saat, aku memutuskan untuk tidak menerima Tante Sarah sebagai ibuku, beliau memarahiku. Aku menjelaskannya padanya. Tapi, ayah tidak mau mendengarkanku. Dia akan tetap menikahi Tante Sarah. Aku sudah tidak tahu lagi harus berkata apa pada ayah, supaya ayah mengerti.”
Mendengar cerita Raka, hatiku seolah ditusuk jarum. Aku berusaha menenangkan Raka. Melihat sahabatku terluka seperti ini, hatiku juga ikut terluka. Aku ingin Raka tersenyum seperti biasanya. Tidak ingin melihat dia sedih seperti ini.
Tak lama kemudian, ayah Raka pun menikahi Tante Sarah. Aku melihat Raka yang berusaha tersenyum. Aku sangat yakin, dia pasti sangat sedih salam hatinya. Sejak saat itu, aku jadi jarang sekali bertemu dengan Raka. Kutelepon pun, Raka tidak mau menjawabnya. Aku ingin membuatnya tersenyum lagi. Tapi, bagaimana caranya?
Diruang keluarga, aku mendengar perbincangan ayah dan ibuku. Beliau bilang, kemarin ada yang kecelakan. Seorang anak SMP tertabrak sebuah mobil truk. Perasaanku mendadak menjadi tidak enak. Aku segera berlari menuju rumah Raka. Disana, aku melihat ayah Raka dengan wajah pucat yang akan pergi.
“Rupanya kau, Runa.”
“Om ingin pergi kemana?” tanyaku.
“Om ingin kerumah sakit.”
“Untuk apa?”
“Raka masuk rumah sakit. Dia kecelakaan.”
“Runa, mau sampai kapan kau dikamar? Kau bisa terlambat kesekolah,” panggil ibu dari bawah.
“Ya. Sebentar, Bu.” Aku buru – buru mengirimi SMS untuk Raka dan berangkat kesekolah. Sedari pelajaran pertama, hatiku selalu berdebar tidak karuan. Pikiran buruk berkeliaran dalam pikiran bodohku ini. Aku berusaha berkonsentrasi pada pelajaran karena sebentar lagi Ulangan Semester. Tapi, tetap saja pikiranku masih bersangkut pada Raka.
Pulang sekolah, aku langsung pergi kerumah Raka. Keadaannya sangat sepi seperti biasa. Aku memencet bel rumahnya, tidak ada yang menjawabnya. Keadaan rumah Raka benar – benar kosong. Dengan perasaan kecewa, aku melangkahkan kakiku untuk pulang.
Malam harinya, hujan turun dengan lebatnya. Hawa dingin menyelimuti kamarku dan membuatku malas untuk belajar. Aku berusaha untuk tetap belajar, namun sia – sia. Mataku sama sekali tidak bisa diajak berdiskusi.
Dalam kegelapan malam itu juga, aku melihat sosok didepan rumahku melalui jendela kamar. Sosok yang nyaris tidak kelihatan karena hujan dan gelapnya malam. Tapi, aku bisa sangat yakin akan sosok orang itu. Aku segera turun dan melihatnya.
“Raka!” seruku. “Kenapa kau kesini malam – malam?”
“Runa... aku...”
“Masuklah dulu.”
Aku menyuruhnya masuk dan memberikannya selembar handuk untuk mengeringkan dirinya. Aku juga memberikannya segelas teh hangat. Kebetulan orang tuaku pulang terlambat. Dan dirumah, hanya ada aku dan adikku. Adikku juga sedang bermain dikamarnya.
“Raka, kamu baik – baik saja, kan?” tanyaku.
Raka hanya diam saja. Tubuhnya kelihatan bergetar sekali. Ditengah derasnya hujan, aku mendengar dia menangis. Walaupun ditahan, tapi masih terdengar dengan jelas.
“Raka?”
“Aku... sudah tidak tahu harus berbuat apa supaya ayah sadar,” katanya. “Ternyata Tante Sarah hanyalah memanfaatkan ayah. Kemarin, tidak sengaja aku mendengar Tante Sarah berbicara dengan seseorang ditelepon. Dia mendekati ayah, hanya untuk mencari kekayaan!
“Saat, aku memutuskan untuk tidak menerima Tante Sarah sebagai ibuku, beliau memarahiku. Aku menjelaskannya padanya. Tapi, ayah tidak mau mendengarkanku. Dia akan tetap menikahi Tante Sarah. Aku sudah tidak tahu lagi harus berkata apa pada ayah, supaya ayah mengerti.”
Mendengar cerita Raka, hatiku seolah ditusuk jarum. Aku berusaha menenangkan Raka. Melihat sahabatku terluka seperti ini, hatiku juga ikut terluka. Aku ingin Raka tersenyum seperti biasanya. Tidak ingin melihat dia sedih seperti ini.
Tak lama kemudian, ayah Raka pun menikahi Tante Sarah. Aku melihat Raka yang berusaha tersenyum. Aku sangat yakin, dia pasti sangat sedih salam hatinya. Sejak saat itu, aku jadi jarang sekali bertemu dengan Raka. Kutelepon pun, Raka tidak mau menjawabnya. Aku ingin membuatnya tersenyum lagi. Tapi, bagaimana caranya?
Diruang keluarga, aku mendengar perbincangan ayah dan ibuku. Beliau bilang, kemarin ada yang kecelakan. Seorang anak SMP tertabrak sebuah mobil truk. Perasaanku mendadak menjadi tidak enak. Aku segera berlari menuju rumah Raka. Disana, aku melihat ayah Raka dengan wajah pucat yang akan pergi.
“Rupanya kau, Runa.”
“Om ingin pergi kemana?” tanyaku.
“Om ingin kerumah sakit.”
“Untuk apa?”
“Raka masuk rumah sakit. Dia kecelakaan.”
Ditinggal Seorang Sahabat (part 2)
“Haduh, susah sekali. Aku sama sekali tidak mengerti,” kataku.
“Hahaha, makanya tiap malam belajar. Jangan baca komik terus,” ledek Raka.
“Tapi, aku memang suka membaca komik. Itu udah jadi hobi tau. Nggak bisa dihentikan.”
“Dasar anak manga.”
“Waduh, gawat! Udah sore banget nih. Ayah sama ibu pasti marah – marah deh,” panikku. Dengan segera aku membereskan buku milikku dan pamitan pada Raka.
Sebenarnya aku ingin lebih lama bersamanya. Aku merasa sedikit kasihan padanya yang selalu ditinggal ayahnya bekerja. Sebenarnya, orang tuaku juga selalu sibuk bekerja. Tapi, mereka selalu menyempatkan pulang sebelum malam tiba. Berbeda sekali dengan ayah Raka yang selalu pulang malam. Bahkan nyaris tidak pulang. Sedangkan ibunya, sudah lama meninggalkan Raka dan ayahnya.
Dan benar dugaanku. Walaupun tidak marah besar, tapi bisa dilihat dari wajah beliau yang kelihatan marah. Aku hanya tersenyum kecil dan langsung masuk kekamar.
Aku mulai membuka catatanku kembali. Aku berusaha keras untuk memahami apa yang diterangkan Raka tadi. Tapi, tetap saja kemampuanku sangat payah.
Aku menghela napas berat dan tiduran dikasurku. Pikiranku melayang kemana – mana. Sudah nyaris 9 tahun kami bersama dan Raka sudah banyak berubah. Yah, walaupun kami berbeda sekolah, Raka selalu menceritakan harinya disekolah. Mulai dari dirinya yang selalu ditembak oleh cewek teman sekelasnya. Sampai hal – hal yang sepele.
Aku juga terkadang mencurahkan isi hatiku padanya. Aku memang terbuka jika bersamanya. Tapi, terkadang, melihat kedekatan Raka dengan teman – temannya, aku merasa iri. Aku memang memiliki teman, tapi tak jarang aku mengambil jarak dari mereka. Mungkin sudah takdirku, jika aku sendirian.
Keesokkan harinya, usai sekolah, aku kembali kerumah Raka untuk bertanya beberapa soal pelajaran. Keadaan rumahnya sangat sepi. Kupencet bel berkali – kali, tidak ada yang menjawab. Lama aku menunggu dan menunggu, tapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya aku kembali dengan perasaan kecewa.
“Loh... Runa? Sedang apa kau disini?”
“Ya nungguin kamulah.”
“Ayo masuk,” ajak Raka.
Tak lama, aku langsung menanyakan soal eksak pada Raka. Dan disaat itu juga, sempat – sempatnya Raka melontarkan candaannya yang tidak lucu. Tapi, entah kenapa aku merasa itu adalah hal yang lucu. Ditengah – tengah tawa kami yang meledak, suara mobil terdengar dari luar. Ternyata itu ayah Raka. Beliau datang bersama dengan wanita yang sangat cantik. Tubuhnya langsing dan putih bagaikan boneka.
“Eh, ada Runa rupanya.”
Aku dan Raka langsung mencium tangan ayah Raka dan wanita itu. “Raka, ayah ingin memperkenalkan ibu baru untukmu.”
“Ibu... baruku?” tanya Raka.
“Ya. Ayah tahu, kamu pasti tidak bisa melupakan ibumu. Tapi, ayah ingin membangun keluarga kita lagi.”
“Kau mau kan menerima Tante Sarah menjadi ibumu?” tanya Tante Sarah.
“Ayah... boleh aku memikirkan sebentar akan hal ini?” tanya Raka.
“Tentu. Ini adalah keputusan yang sangat penting.”
Aku mulai sadar, kalau wajah Raka berubah pucat. Aku bertanya, apa dia baik – baik saja. Dia hanya tersenyum kecil padaku dan bilang baik – baik saja. Tentu aku merasa kalau senyuman Raka itu dipaksakan.
“Lebih baik aku pulang. Aku tidak ingin menggangu keputusanmu,” kataku.
“Mau kuantar?”
“Tidak usah. Aku kan bukan anak kecil lagi.”
Aku buru – buru melangkahkan kakiku. Melihat wajah Raka barusan, membuat dadaku terasa sesak. Aku tidak tau mengapa, tapi semoga saja bukan hal buruk.
“Hahaha, makanya tiap malam belajar. Jangan baca komik terus,” ledek Raka.
“Tapi, aku memang suka membaca komik. Itu udah jadi hobi tau. Nggak bisa dihentikan.”
“Dasar anak manga.”
“Waduh, gawat! Udah sore banget nih. Ayah sama ibu pasti marah – marah deh,” panikku. Dengan segera aku membereskan buku milikku dan pamitan pada Raka.
Sebenarnya aku ingin lebih lama bersamanya. Aku merasa sedikit kasihan padanya yang selalu ditinggal ayahnya bekerja. Sebenarnya, orang tuaku juga selalu sibuk bekerja. Tapi, mereka selalu menyempatkan pulang sebelum malam tiba. Berbeda sekali dengan ayah Raka yang selalu pulang malam. Bahkan nyaris tidak pulang. Sedangkan ibunya, sudah lama meninggalkan Raka dan ayahnya.
Dan benar dugaanku. Walaupun tidak marah besar, tapi bisa dilihat dari wajah beliau yang kelihatan marah. Aku hanya tersenyum kecil dan langsung masuk kekamar.
Aku mulai membuka catatanku kembali. Aku berusaha keras untuk memahami apa yang diterangkan Raka tadi. Tapi, tetap saja kemampuanku sangat payah.
Aku menghela napas berat dan tiduran dikasurku. Pikiranku melayang kemana – mana. Sudah nyaris 9 tahun kami bersama dan Raka sudah banyak berubah. Yah, walaupun kami berbeda sekolah, Raka selalu menceritakan harinya disekolah. Mulai dari dirinya yang selalu ditembak oleh cewek teman sekelasnya. Sampai hal – hal yang sepele.
Aku juga terkadang mencurahkan isi hatiku padanya. Aku memang terbuka jika bersamanya. Tapi, terkadang, melihat kedekatan Raka dengan teman – temannya, aku merasa iri. Aku memang memiliki teman, tapi tak jarang aku mengambil jarak dari mereka. Mungkin sudah takdirku, jika aku sendirian.
Keesokkan harinya, usai sekolah, aku kembali kerumah Raka untuk bertanya beberapa soal pelajaran. Keadaan rumahnya sangat sepi. Kupencet bel berkali – kali, tidak ada yang menjawab. Lama aku menunggu dan menunggu, tapi tidak membuahkan hasil. Akhirnya aku kembali dengan perasaan kecewa.
“Loh... Runa? Sedang apa kau disini?”
“Ya nungguin kamulah.”
“Ayo masuk,” ajak Raka.
Tak lama, aku langsung menanyakan soal eksak pada Raka. Dan disaat itu juga, sempat – sempatnya Raka melontarkan candaannya yang tidak lucu. Tapi, entah kenapa aku merasa itu adalah hal yang lucu. Ditengah – tengah tawa kami yang meledak, suara mobil terdengar dari luar. Ternyata itu ayah Raka. Beliau datang bersama dengan wanita yang sangat cantik. Tubuhnya langsing dan putih bagaikan boneka.
“Eh, ada Runa rupanya.”
Aku dan Raka langsung mencium tangan ayah Raka dan wanita itu. “Raka, ayah ingin memperkenalkan ibu baru untukmu.”
“Ibu... baruku?” tanya Raka.
“Ya. Ayah tahu, kamu pasti tidak bisa melupakan ibumu. Tapi, ayah ingin membangun keluarga kita lagi.”
“Kau mau kan menerima Tante Sarah menjadi ibumu?” tanya Tante Sarah.
“Ayah... boleh aku memikirkan sebentar akan hal ini?” tanya Raka.
“Tentu. Ini adalah keputusan yang sangat penting.”
Aku mulai sadar, kalau wajah Raka berubah pucat. Aku bertanya, apa dia baik – baik saja. Dia hanya tersenyum kecil padaku dan bilang baik – baik saja. Tentu aku merasa kalau senyuman Raka itu dipaksakan.
“Lebih baik aku pulang. Aku tidak ingin menggangu keputusanmu,” kataku.
“Mau kuantar?”
“Tidak usah. Aku kan bukan anak kecil lagi.”
Aku buru – buru melangkahkan kakiku. Melihat wajah Raka barusan, membuat dadaku terasa sesak. Aku tidak tau mengapa, tapi semoga saja bukan hal buruk.
Ditinggal Seorang Sahabat (part 1)
Sahabat adalah orang yang paling kita percaya setelah keluarga. Ia adalah orang selalu bersama saat suka maupun duka. Bersama dan terus menjaga tali persahabatannya. Merasakan sepi saat ia tidak ada. Merasakan bahagia saat ia tersenyum. Merasakan sedih saat ia sedang tertimpa masalah. Dan merasakan sendiri saat ia sudah tidak bisa disisi kita lagi.
“Lagi – lagi bengong,” tegur Raka yang membuyarkan lamunanku.
“Ah... eh... nggak. Nggak kok, nggak bengong.”
“Ya sudah. Kita udahan dulu belajarnya,” kata Raka sambil membereskan buku – buku miliknya.
“Loh? Kok udahan? Aku kan belum paham.”
“Habis, kamu bengong mulu. Udah tau lagi diajarin juga.”
“Maap deh. Aku janji nggak akan bengong lagi. Jadi, sekarang ajarin aku lagi,” pintaku.
“Baiklah. Jangan bengong lagi ya.”
“Baik, kapten.”
Aku mulai serius dan mendengarkan penjelasan dari Raka. Dihari Sabtu dan Minggu memang sudah kegiatan rutinku untuk belajar bersamanya. Mungkin lebih tepatnya, minta diajarkan. Terlebih jika pelajaran eksak seperti fisika dan matematika. Aku pasti minta dia mengajarkanku.
Tapi akhir – akhir ini, kenanganku dulu, entah mengapa bangkit kembali. Kenangan saat aku bertemu dengan Raka. Orang yang sudah kuanggap sebagai sahabat dan sudah mengubah hidupku.
Sewaktu kecil, aku jarang sekali bermain keluar seperti anak kecil pada umumnya. Aku lebih memilih diam dirumah dan melakukan hal lain daripada main keluar. Ingin sekali keluar dan bermain, tetapi tidak yakin mereka akan mengajakku bergabung.
Disaat aku sedang melihat mereka asyik bermain, seorang anak laki – laki datang padaku. Ya. Itulah Raka. Rakalah teman pertamaku dulu. Orang yang berhasil menarikku dari tempat yang gelap ketempat yang terang seperti sekarang ini. Makanya, dia sangat berharga bagiku.
“Lagi – lagi bengong,” tegur Raka yang membuyarkan lamunanku.
“Ah... eh... nggak. Nggak kok, nggak bengong.”
“Ya sudah. Kita udahan dulu belajarnya,” kata Raka sambil membereskan buku – buku miliknya.
“Loh? Kok udahan? Aku kan belum paham.”
“Habis, kamu bengong mulu. Udah tau lagi diajarin juga.”
“Maap deh. Aku janji nggak akan bengong lagi. Jadi, sekarang ajarin aku lagi,” pintaku.
“Baiklah. Jangan bengong lagi ya.”
“Baik, kapten.”
Aku mulai serius dan mendengarkan penjelasan dari Raka. Dihari Sabtu dan Minggu memang sudah kegiatan rutinku untuk belajar bersamanya. Mungkin lebih tepatnya, minta diajarkan. Terlebih jika pelajaran eksak seperti fisika dan matematika. Aku pasti minta dia mengajarkanku.
Tapi akhir – akhir ini, kenanganku dulu, entah mengapa bangkit kembali. Kenangan saat aku bertemu dengan Raka. Orang yang sudah kuanggap sebagai sahabat dan sudah mengubah hidupku.
Sewaktu kecil, aku jarang sekali bermain keluar seperti anak kecil pada umumnya. Aku lebih memilih diam dirumah dan melakukan hal lain daripada main keluar. Ingin sekali keluar dan bermain, tetapi tidak yakin mereka akan mengajakku bergabung.
Disaat aku sedang melihat mereka asyik bermain, seorang anak laki – laki datang padaku. Ya. Itulah Raka. Rakalah teman pertamaku dulu. Orang yang berhasil menarikku dari tempat yang gelap ketempat yang terang seperti sekarang ini. Makanya, dia sangat berharga bagiku.
Langganan:
Komentar (Atom)