Senin, 15 Oktober 2012

Keinginanku yang tak bisa kuraih

Aku ingin sekali berada disisimu Tapi, apa daya... Aku tak mampu melakukannya Aku tak ingin kau terluka hanya karena diriku Meski luka itu hanya luka gores Alasanku tak bisa berada disisimu adalah... karena aku takut Aku takut akan menyakitimu Maka dari itu, aku menghindarimu Tapi, aku juga tak bisa berada jauh darimu Hanya bisa memandangmu dari jauh Aku takut diriku terluka karena terlalu jauh darimu Aku selalu ingin berada disisimu Selalu dan selalu Tapi... Aku tak pernah berani mengambil resiko itu Resiko kehilangan dirimu untuk yang kedua kalinya.

Tanganmu adalah Penyelamatku

Sejak kapan tanganmu begitu indah dalam ingatanku? Mengulurkan tanganmu yang kecil itu padaku membuatku terdiam begitu melihat uluran tangan darimu Aku berpikir... mengapa kau mau mengulurkan tanganmu padaku? Aku bukan siapa - siapa dirimu Kau juga bukan siapa - siapa diriku Meski begitu, entah mengapa aku merasa senang Saat tahu ada yang mau mengulurkan tangannya padaku Tanganmu adalah penyelamatku Kau mau menerobos kegelapan yang membungkusku Hanya untuk menarikku keluar dari kegelapan itu Kau mau membawaku kemana saja Asal bukan tempat yang selalu kudiami Tanganmu adalah penyelamat bagiku Hanya saja... Mengapa ditengah jalan kau melepaskan tanganmu? Apa kau sudah bosan menggenggam tanganku? Kau pergi begitu saja meninggalkanku ditengah kegelapan itu lagi Kau telantarkan aku kembali ditempat gelap itu lagi.

Rabu, 20 Juni 2012

Satu - Satunya Jalan Untukku

Sejak dulu sekali, aku sudah siap berhadapan dengan kematian Mati adalah hal yang pantas untuk kudapatkan Kupikir mati adalah satu - satunya jalan untukku Jalan yang harus kulewati agar rasa sakit ini hilang Beban yang ada dipundakku terlalu berat tak sanggup untuk kubawa lagi Rasa sakit yang ada dihatiku ini terlalu perih tak sanggup untuk menahannya lagi Air mata ini pun sudah tak sanggup untuk tampung lagi Begitu juga dengan takdirku Takdirku terlalu kejam dan pedih tak sanggup untuk menjalaninya lagi Aku sudah siap mati Hatiku sudah siap untuk menerima kematian Tak akan ada yang tahu bahwa aku mati Tak akan ada yang peduli padaku jika aku mati Bahkan, tak akan ada yang menangis padaku jika aku pergi untuk selamanya Toh, pada dasarnya aku memang tak dibutuhkan oleh mereka Jika mati memang yang terbaik untukku maka aku akan melakukannya Jika mati memang takdirku maka aku akan melaksanakannya Jika mati adalah satu - satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan ini maka cabutlah nyawaku sekarang juga Jiwa ragaku sudah siap untuk mati!

Melepas segalanya

Terkadang, ingin sekali rasanya menangis keras - keras Melepas semua beban yang ada dihati Melepas semua pikiran yang bersemayam dalam diri Menangis hingga tenggorokan ini kering Menangis hingga air mata ini habis hingga berubah menjadi darah Tapi, apa daya yang bisa kulakukan Aku sangat dilarang menangis Jangankan menangis, merasa sedih saja dilarang Aku harus selalu memasang senyum Meskipun senyum itu adalah senyum palsu Aku harus bersikap tegar Aku harus kuat dan tak boleh memperlihatkan kelemahanku Dibalik semua kepalsuan yang kuperlihatkan Aku selalu menangis dalam bayangan Aku selalu takut jika sendirian Aku selalu lemah dan tak berdaya Satu kali saja... Izinkan aku menangis sekeras yang kubisa

Minggu, 08 April 2012

Kebahagiaan Kecil yang diambil oleh Tuhan

Hari - hari yang kulewati ini benar - benar menyenangkan Berlari sekencang mungkin melebihi angin Bertahan bagaikan tameng yang terbuat dari baja Melempar dengan tepat mengenai sasaran Menggiringnya dengan hentakan penuh semangat Aku menikmati tiap detik Melakukannya dengan senang hati Tanpa ada keluhan sedikit pun Bisa atau tidak terus saja aku hadang tanpa ampun Meskipun sudah diperingati Tetap saja kumainkan dengan bebasnya layak kucing liar Tapi, kenapa Tuhan begitu tega mengambil kebahagian kecilku ini? Apa salahku? Apakah salah jika aku melakukannya dengan sepenuh hati? Membiarkanku menangis hingga air mata ini berubah menjadi darah Dan hanya bisa melihat bahwa "itu" dihapus begitu saja Dihapus bagaikan coretan pensil yang tak penting

Perbedaan antara Kau dan Aku

Senyummu begitu renyah dan bebas Hingga membuatku secara tak sadar ikut tersenyum Pandanganmu selalu teduh dan rimbun Hingga membuatku selalu tenggalam dalam matamu Suaramu sungguh merdu dan tegas Hingga membuatku membalas suaramu itu Tapi, aku hanya bisa membayangkannya saja Tak akan pernah bisa kulakukan Senyumku tak serenyah dirimu Hingga membuatku tak pernah tersenyum pada siapa pun Pandanganku selalu dingin dan tajam Hingga membuatku dijauhi oleh semuanya Suaraku selalu terkunci dalam tenggorokan Hingga membuatku terus berdiam diri Aku selalu bertanya pada diriku sendiri Mengapa kau bisa tersenyum serenyah itu sementara aku tidak? Mengapa tatapanmu begitu teduh sementara aku tidak? Mengapa suaramu begitu merdu sementara aku tidak?

Selasa, 14 Februari 2012

Kucing Kesayanganku

"Kucing pendiam dan misterius" Itulah sebutan diriku padamu Kau selalu terlihat sendiri dan sibuk dengan kegiatanmu sendiri Hanya berhadapan dengan beberapa kucing lain Tiap kali kulirik kearahmu Tatapan menusuk selalu datang darimu Wajah dingin itu, wajah cuek itu, wajah acuh itu Entah kenapa begitu jelas dalam benakku Suaramu yang serak namun merdu Entah kenapa selalu terngiang dalam gendang telingaku Hanya satu yang tak habis pikir Kenapa bola matamu bisa seteduh itu? Alasanku yang membuatku tertarik padamu Kucing pendiam dan misterius Namun memiliki mata yang teduh Semakin kutatap bola matamu, semakin ingin kusentuh dirimu Membelaimu lembut dalam dekapanku

Selasa, 31 Januari 2012

Takut atau Benci?

Setiap kali aku melihat sosokmu mataku selalu saja terpesona olehmu Seolah tak ingin melepaskan pandanganku padamu sedetik saja Setiap kali aku menatap matamu bayangan akan diriku selalu terpantul dalam bola matamu yang teduh Seolah diriku ikut masuk kedalam pantulan bola mata itu Setiap kali aku mendengar suaramu, memanggil namaku telingaku terasa panas seperti terbakar Seolah dada ini diliputi api yang membara karena suaramu yang tegas itu Setiap kali kau berjalan kearahku Tubuhku selalu bergetar tak menentu Seolah tubuhku akan hancur berserakan dalam sekejap Hal yang paling kusukai dari dirimu itu Semua itu selalu membuatku melayang dan berdebar - debar tak karuan Akan tetapi... Setiap kali kau berada disampingku, disisiku hanya ada rasa kebencian yang hinggap didalam hatiku Aku tak mengerti akan perasaan ini Apakah aku begitu takut berada disisimu?

Senin, 16 Januari 2012

Aku benci...

Kenapa perasaanku harus kembali pada diriku ini? Kenapa kau selalu muncul disaat terakhir dengan penampilan barumu itu? Penampilan yang membuatmu terlihat berbeda dibandingkan yang dulu. Aku tidak marah akan penampilanmu. Tapi, aku marah pada diriku sendiri Yang tak bisa konsisten dengan perasaanku sendiri. Aku benci hal itu! Sebisanya, aku ingin menghilangkan perasaanku padamu. Karena aku yakin, perasaanmu padaku pasti sudah lenyap Bersamaannya dengan waktu. Disaat aku mulai melupakanmu Kau selalu muncul lagi dan memancarkan senyum yang tak bisa kulawan itu Aku benci hal itu! Aku bukannya benci pada dirimu yang memiliki senyum menawan itu. Tapi, aku benci pada diriku sendiri! Yang tak bisa melupakan seutuhnya akan pesona dirimu.

Takdir?

Selalu kubuang jauh kata - kata itu dari kamusku "Kata" yang selalu kubenci Satu "kata" yang mengandung banyak arti bagi manusia Aku membencinya! "Kata" itulah yang membuatku harus merasakan perasaan yang sama Perasaan yang sudah lama ingin kubuang Dan juga tak ingin kurasakan kembali Perih rasanya bila mengingatnya Pepatah berkata : "Takdirlah yang mempertemukan kita dan takdirlah yang memisahkan kita" "Kalimat" itu yang selalu membuatku terpuruk dengan masa lalu Dan merutuki diriku sendiri dimasa ini Aku membencinya! Tapi, tak bisa kupungkiri bahwa aku berjalan dijalan "takdir" "Takdir" yang sejak dulu kugenggam dalam tanganku ini