Selasa, 31 Januari 2012

Takut atau Benci?

Setiap kali aku melihat sosokmu mataku selalu saja terpesona olehmu Seolah tak ingin melepaskan pandanganku padamu sedetik saja Setiap kali aku menatap matamu bayangan akan diriku selalu terpantul dalam bola matamu yang teduh Seolah diriku ikut masuk kedalam pantulan bola mata itu Setiap kali aku mendengar suaramu, memanggil namaku telingaku terasa panas seperti terbakar Seolah dada ini diliputi api yang membara karena suaramu yang tegas itu Setiap kali kau berjalan kearahku Tubuhku selalu bergetar tak menentu Seolah tubuhku akan hancur berserakan dalam sekejap Hal yang paling kusukai dari dirimu itu Semua itu selalu membuatku melayang dan berdebar - debar tak karuan Akan tetapi... Setiap kali kau berada disampingku, disisiku hanya ada rasa kebencian yang hinggap didalam hatiku Aku tak mengerti akan perasaan ini Apakah aku begitu takut berada disisimu?

Senin, 16 Januari 2012

Aku benci...

Kenapa perasaanku harus kembali pada diriku ini? Kenapa kau selalu muncul disaat terakhir dengan penampilan barumu itu? Penampilan yang membuatmu terlihat berbeda dibandingkan yang dulu. Aku tidak marah akan penampilanmu. Tapi, aku marah pada diriku sendiri Yang tak bisa konsisten dengan perasaanku sendiri. Aku benci hal itu! Sebisanya, aku ingin menghilangkan perasaanku padamu. Karena aku yakin, perasaanmu padaku pasti sudah lenyap Bersamaannya dengan waktu. Disaat aku mulai melupakanmu Kau selalu muncul lagi dan memancarkan senyum yang tak bisa kulawan itu Aku benci hal itu! Aku bukannya benci pada dirimu yang memiliki senyum menawan itu. Tapi, aku benci pada diriku sendiri! Yang tak bisa melupakan seutuhnya akan pesona dirimu.

Takdir?

Selalu kubuang jauh kata - kata itu dari kamusku "Kata" yang selalu kubenci Satu "kata" yang mengandung banyak arti bagi manusia Aku membencinya! "Kata" itulah yang membuatku harus merasakan perasaan yang sama Perasaan yang sudah lama ingin kubuang Dan juga tak ingin kurasakan kembali Perih rasanya bila mengingatnya Pepatah berkata : "Takdirlah yang mempertemukan kita dan takdirlah yang memisahkan kita" "Kalimat" itu yang selalu membuatku terpuruk dengan masa lalu Dan merutuki diriku sendiri dimasa ini Aku membencinya! Tapi, tak bisa kupungkiri bahwa aku berjalan dijalan "takdir" "Takdir" yang sejak dulu kugenggam dalam tanganku ini